Rabu 22 Feb 2023 18:40 WIB

Aurora Baru Terdeteksi di Jupiter, Tampak Menakjubkan

Aurora tersebut memancarkan cahaya yang cemerlang.

Rep: Santi Sopia/ Red: Natalia Endah Hapsari
Tim astronom menemukan aurora baru di atas empat bulan terbesar Jupiter/ilustrasi.
Foto: Markus Varik/Greenlander
Tim astronom menemukan aurora baru di atas empat bulan terbesar Jupiter/ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Tim astronom menemukan aurora baru di atas empat bulan terbesar Jupiter. Aurora tersebut memancarkan cahaya yang cemerlang.

Kuartet satelit yang mengorbit Jupiter, yakni, Io, Ganymede, Callisto, dan Europa, ditemukan oleh Galileo pada awal 1600-an. Io merupakan yang paling aktif secara vulkanik di sudut kosmos, dan tiga lainnya diduga menyimpan lautan cair di bawah lapisan permukaannya.

Baca Juga

Tapi sekarang, melalui beberapa observatorium untuk mempelajari bulan-bulan Jovian, para astronom telah menambahkan aurora redup ke dalam daftar fitur yang perlu diamati lebih lanjut.

"Pengamatan ini rumit karena dalam bayang-bayang Jupiter, bulan-bulan hampir tidak terlihat. Cahaya yang dipancarkan oleh aurora samar mereka adalah satu-satunya konfirmasi bahwa kami telah mengarahkan teleskop ke tempat yang tepat," jelas profesor CalTech Katherine de Kleer dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Cnet, Rabu (22/2/2023).

 

De Kleer merupakan penulis utama pada salah satu dari dua studi tentang penemuan yang diterbitkan di Planetary Science Journal.

Atmosfer di bulan-bulan ini lebih tipis dari Bumi. Hal itu menyebabkan tampilan cahaya yang lebih merah daripada hijau dan terlihat dari aurora borealis serta aurora australis di planet Bumi. Gas dan debu vulkanik di Io juga menambahkan lebih banyak natrium ke atmosfer, sehingga memberikan cahaya yang lebih kuning-oranye pada aurora di sana. Tampilan oker bisa sampai 15 kali lebih terang dari apa yang dilihat di planet Bumi, menurut perkiraan para ilmuwan.

"Kecerahan warna aurora yang berbeda memberi tahu kita kemungkinan komposisi atmosfer bulan-bulan ini," tambah de Kleer.

Astronom menemukan bahwa oksigen molekuler, seperti yang dihirup di Bumi, kemungkinan merupakan konstituen utama atmosfer bulan yang sedingin es.

Menurut sebuah pernyataan pada penelitian tersebut, oksigen juga mengaktifkan cahaya aurora dalam panjang gelombang inframerah di Europa dan Ganymede, bahkan lebih merah daripada yang dapat dilihat mata manusia secara fisik.

“Kami mengharapkan detail lebih lanjut tentang dunia aneh ini karena Teleskop Luar Angkasa James Webb dan misi seperti Juno dan Juice menargetkannya dan membantu kami mengevaluasi rencana perjalanan umat manusia selama berabad-abad yang akan datang,” tambah dia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement