Kamis 28 Dec 2023 01:08 WIB

Dari IRAS ke Webb, Ini Evolusi Luar Biasa Teleskop Inframerah NASA

NASA merayakan dua tahun peluncuran Teleskop Luar Angkasa James Webb.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Friska Yolandha
Gambar kombinasi ini disediakan oleh NASA pada hari Rabu, 19 Oktober 2022, menunjukkan Pilar Penciptaan seperti yang dicitrakan oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA pada tahun 2014, kiri, dan oleh Teleskop James Webb NASA, kanan. Tampilan cahaya inframerah-dekat baru dari Teleskop Luar Angkasa James Webb membantu kita mengintip lebih banyak debu di wilayah pembentuk bintang, menurut NASA.
Foto: NASA, ESA, CSA, STScI via AP
Gambar kombinasi ini disediakan oleh NASA pada hari Rabu, 19 Oktober 2022, menunjukkan Pilar Penciptaan seperti yang dicitrakan oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA pada tahun 2014, kiri, dan oleh Teleskop James Webb NASA, kanan. Tampilan cahaya inframerah-dekat baru dari Teleskop Luar Angkasa James Webb membantu kita mengintip lebih banyak debu di wilayah pembentuk bintang, menurut NASA.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Teleskop Webb telah membuka jendela baru ke alam semesta. Akan tetapi, teleskop ini dibangun berdasarkan misi yang telah dilakukan sejak 40 tahun yang lalu, termasuk Spitzer dan Satelit Astronomi Inframerah (IRAS).

Pada 25 Desember 2023, NASA merayakan dua tahun peluncuran Teleskop Luar Angkasa James Webb, observatorium luar angkasa terbesar dan terkuat dalam sejarah. Kejelasan gambarnya telah menginspirasi dunia, dan para ilmuwan baru saja mulai mengeksplorasi manfaat ilmiah yang diperolehnya.

Baca Juga

Keberhasilan Webb dibangun berdasarkan empat dekade teleskop luar angkasa yang juga mendeteksi cahaya inframerah (yang tidak terlihat oleh mata telanjang), khususnya hasil kerja dua teleskop pensiunan NASA yang merayakan hari jadinya pada tahun lalu.

Januari menandai tahun ke-40 sejak peluncuran teleskop luar angkasa, Satelit Astronomi Inframerah (IRAS). Sementara bulan Agustus menandai peringatan 20 tahun peluncuran Teleskop Luar Angkasa Spitzer.

Warisan ini terpancar dalam gambar Rho Ophiuchi yang diambil NASA, salah satu wilayah pembentuk bintang terdekat dengan Bumi. IRAS adalah teleskop inframerah pertama yang diluncurkan ke orbit Bumi, di atas atmosfer yang menghalangi sebagian besar panjang gelombang inframerah. 

Awan tebal gas dan debu di Rho Ophiuchi menghalangi cahaya tampak, namun penglihatan inframerah IRAS menjadikannya observatorium pertama yang mampu menembus lapisan-lapisan tersebut, untuk mengungkap bintang-bintang baru lahir yang terletak jauh.

Dua puluh tahun kemudian, beberapa detektor inframerah Spitzer membantu para astronom menentukan usia yang lebih spesifik untuk banyak bintang di wilayah tersebut, memberikan wawasan tentang bagaimana bintang-bintang muda di seluruh alam semesta berevolusi. Penglihatan inframerah Webb yang lebih detail menunjukkan semburan jet dari bintang-bintang muda, serta piringan material di sekitarnya (yang akan membentuk sistem planet masa depan).

Contoh lainnya adalah Fomalhaut, bintang yang dikelilingi piringan puing yang mirip dengan sabuk asteroid Bumi. Empat puluh tahun yang lalu, piringan tersebut merupakan salah satu penemuan besar IRAS karena piringan itu juga secara kuat mengisyaratkan keberadaan setidaknya satu planet, pada saat belum ada planet yang ditemukan di luar tata surya.

Lanjut ke halaman berikutnya....

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement