Kamis 30 Nov 2023 22:24 WIB

Roket SpaceX Dituding Membuat Atmosfer Berlubang, Ini Faktanya

Meluncurkan roket ke luar angkasa dapat membuat lubang di ionosfer atas.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Natalia Endah Hapsari
Roket SpaceX yang tidak mengorbit membuat lubang sementara di bagian atas atmosfer, sehingga menciptakan gumpalan cahaya terang di langit.
Foto: Malcolm Denemark/Florida Today v
Roket SpaceX yang tidak mengorbit membuat lubang sementara di bagian atas atmosfer, sehingga menciptakan gumpalan cahaya terang di langit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Roket SpaceX yang tidak mengorbit membuat lubang sementara di bagian atas atmosfer, sehingga menciptakan gumpalan cahaya terang di langit. Kini, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa “aurora SpaceX” yang terlihat seperti bola cahaya merah menyala ini dapat menyebabkan masalah yang belum diketahui, meskipun hal tersebut bukan merupakan ancaman terhadap lingkungan atau kehidupan di Bumi. 

Dilansir Livescience, Kamis (30/11/2023), para peneliti telah mengetahui selama beberapa dekade bahwa meluncurkan roket ke luar angkasa dapat membuat lubang di ionosfer bagian atas. Ini berupa bagian atmosfer antara 80 dan 644 kilometer di atas permukaan bumi tempat gas terionisasi, atau pelepasan elektron. “Lubang ionosfer” ini dapat merangsang molekul gas di bagian atmosfer ini dan memicu garis-garis merah terang seperti cahaya aurora. 

Baca Juga

Misalnya, pada bulan Juli, roket SpaceX Falcon 9, yang membawa satelit Starlink ke orbit, membuat lubang di atas Arizona yang membuat langit menganga. Pada bulan September, roket Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (AS) secara tidak sengaja membuat lubang ionosfer di atas California, yang menciptakan cahaya merah redup. 

Kini, para astronom di Observatorium McDonald di Texas telah melihat cahaya merah serupa namun unik yang muncul lama setelah roket Falcon 9 milik SpaceX meninggalkan atmosfer bumi. Cahaya ini, yang lebih kecil dan lebih berbentuk bola dibandingkan garis panjang yang dihasilkan oleh peluncuran roket, adalah hasil dari lubang ionosfer yang dibuat oleh pendorong sekunder roket saat jatuh kembali ke Bumi setelah terlepas dari roket, spaceweather.com melaporkan. 

Para astronom melihat aurora pertama SpaceX di atas observatorium pada bulan Februari, dan sekarang mereka melihat “dua hingga lima aurora setiap bulannya,” kata Stephen Hummel, astronom dan koordinator program penjangkauan di Observatorium McDonald, kepada Spaceweather.com. Hummel menambahkan bola merah itu ‘sangat terang” dan “mudah terlihat dengan mata telanjang”. 

Roket yang naik dan booster yang tidak mengorbit memicu lubang ionosfer dengan melepaskan bahan bakar ke ionosfer, yang menyebabkan atom oksigen terionisasi bergabung kembali, atau berubah kembali menjadi molekul gas biasa. 

Transformasi ini merangsang molekul dan menyebabkannya melepaskan cahaya merah, serupa dengan saat gas tereksitasi oleh gas tereksitasi oleh radiasi matahari selama tampilan aurora tradisional. Hal ini pada dasarnya menciptakan lubang di plasma sekitarnya, atau gas terionisasi. Namun molekul yang digabungkan kembali akan terionisasi, yang menutup lubang dalam waktu 10 hingga 20 menit. 

Pendorong SpaceX melepaskan bahan bakar selama pembakaran singkat untuk menggerakkan puing-puing yang berjatuhan agar mendarat di Samudera Atlantik bagian Selatan alih-alih jatuh dari daratan. Menurut Spaceweather.com, lubang yang dihasilkan biasanya terbentuk di atas wilayah selatan-tengah AS sekitar 90 menit setelah peluncuran pada ketinggian sekitar 300 km. 

Lubang-lubang ini lebih kecil dan lebih melingkar dibandingkan lubang-lubang yang dibuka dengan peluncuran roket, sehingga cahaya yang dihasilkan lebih bulat dan tidak bertahan lama. Namun mereka lebih sering muncul. 

Sama seperti pertunjukan cahaya yang lebih besar, lubang ionosfer tidak menimbulkan bahaya bagi kehidupan di permukaan bumi. Namun, “dampaknya terhadap ilmu astronomi masih dievaluasi,” kata Hummel. Akibatnya,  Hummel menambahkan, hal ini menjadi “perhatian yang semakin meningkat” di kalangan peneliti. Belajar tentang lubang-lubang ini juga dapat membantu para ilmuwan mempelajari lebih lanjut tentang ionosfer. 

“Kepadatan ionosfer berbeda dari malam ke malam, sehingga kita dapat mempelajari efisiensi kimia [ionosfer] dengan mengamati banyak peristiwa,” Jeffrey Baumgardner, fisikawan di Boston University, mengatakan kepada Spaceweather.com.

Gumpalan merah bukan satu-satunya pertunjukan cahaya yang diciptakan oleh roket SpaceX. Pendorong roket perusahaan memutar dan membuang sisa bahan bakarnya ke luar angkasa sebelum melakukan de-orbit, sehingga menciptakan awan kristal es kecil. Kristal-kristal ini kadang-kadang dapat memantulkan sinar matahari kembali ke Bumi, dan bahan bakar yang menyala menciptakan spiral terang di langit malam, yang dikenal sebagai “spiral SpaceX.”

Sudah ada dua spiral besar SpaceX tahun ini. Yang pertama terjadi pada bulan Januari, yang terlihat terbentuk di atas Mauna Kea di Hawaii, dan yang kedua terjadi pada bulan April, yang bersinar selama pertunjukan aurora tradisional di Alaska. Jumlah peluncuran SpaceX meningkat pesat sehingga aurora dan spiral kemungkinan akan menjadi lebih umum di masa depan. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement