Jumat 30 Dec 2022 06:30 WIB

China Minta Global Lakukan Penerapan Aturan Covid-19 yang Adil

Pelonggaran kebijakan nol-Covid menyebabkan lonjakan kasus Covid di China.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha
 Seorang wisatawan bermasker tiba di konter check in penerbangan internasional di Bandara Internasional Ibukota Beijing di Beijing, Kamis, 29 Desember 2022. Langkah AS, Jepang, dan lainnya untuk mengamanatkan tes COVID-19 bagi penumpang yang datang dari China mencerminkan keprihatinan global bahwa varian baru dapat muncul dalam wabah eksplosif yang sedang berlangsung — dan pemerintah mungkin tidak memberi tahu seluruh dunia dengan cukup cepat.
Foto: AP/Andy Wong
Seorang wisatawan bermasker tiba di konter check in penerbangan internasional di Bandara Internasional Ibukota Beijing di Beijing, Kamis, 29 Desember 2022. Langkah AS, Jepang, dan lainnya untuk mengamanatkan tes COVID-19 bagi penumpang yang datang dari China mencerminkan keprihatinan global bahwa varian baru dapat muncul dalam wabah eksplosif yang sedang berlangsung — dan pemerintah mungkin tidak memberi tahu seluruh dunia dengan cukup cepat.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Kementerian Luar Negeri China angkat suara atas keputusan beberapa negara memberlakukan pengetatan aturan bagi pengunjung yang berasal dari China. Beijing menegaskan, persyaratan Covid-19 yang diberlakukan oleh negara-negara pada pengunjung dari China harus didasarkan pada sains.

“China percaya tanggapan semua negara terhadap Covid-19 harus ilmiah dan adil,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin dalam konferensi pers di Beijing pada Kamis (29/12/2022).

Baca Juga

Negara itu sedang menghadapi lonjakan infeksi yang eksplosif setelah membuang kebijakan "nol-Covid" yang ketat bulan ini. Pelonggaran tersebut menyusul kerusuhan dan protes yang belum pernah terjadi sebelumnya di beberapa bagian negara itu.

Pelonggaran aturan yang akhirnya membuat rumah sakit dan krematorium semakin padat telah mendorong negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Italia, dan negara lainnya untuk memberlakukan persyaratan baru bagi orang-orang yang datang dari China, termasuk tes Covid-19 yang negatif. Langkah-langkah tersebut berbeda dengan keputusan Beijing untuk membatalkan karantina wajib bagi semua pengunjung mulai 8 Januari.

“Langkah-langkah saat ini mencegah pertukaran normal di antara orang-orang dan kami berharap semua negara akan mendasarkan keputusan mereka pada sains dan akan memastikan rantai pasokan global yang stabil dan pemulihan ekonomi,” kata Wang.

Kementerian Luar Negeri sebelumnya mengatakan fokus China dalam tanggapan Covid-19 telah bergeser dari pencegahan infeksi menjadi perlindungan kesehatan dan pencegahan penyakit parah. Komisi Kesehatan Nasional negara itu juga telah mengumumkan tidak akan lagi merilis angka harian kasus dan hanya akan melaporkan setiap bulan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement