Kamis 22 Nov 2018 05:35 WIB

Observatorium Bosscha: Sejarah, Teleskop, dan Ancaman

Observatorium Bosscha merupakan observatorium terbesar di Indonesia.

Suasana komplek Observatorium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, saat pengamatan hilal oleh tim Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama pihak-pihak terkait, Kamis (14/6).
Foto: Republika/Edi Yusuf
Petugas melakukan pengamatan hilal di bawah teropong bintang Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (26/5).

Mengenal Bosscha, masyarakat mungkin hanya akan mengetahui teropong besar yang ada di dalam kubah raksasa saja. Padahal masih ada 12 teleskop lagi dengan fungsi berbeda-beda.

Namun, yang aktif digunakan untuk kebutuhan penelitian hanya enam teleskop. Sisanya digunakan untuk pendidikan. Berikut enam teleskop yang biasa digunakan untuk keperluan penelitian.

GAO Remote Telescope System

Teleskop ini berjenis Schmidt-Cassegrain bermerek Celestron dengan diameter cermin 8 inci (sekitar 20 cm). Teleskop tersebut berada dalam ruangan dengan atap geser. Teleskop GAO dapat mengamati penampakan salib selatan yang tidak bisa diamati di belahan bumi lain seperti Jepang dan Amerika Serikat. Biasanya teleskop ini digunakan spektroskopi atau objek-objek yang membentang seperti planetari nebula, supernova, komet, dan benda-benda lain seperti bintang.

"Jadi untuk kebutuhan penelitian kami bekerja sama dengan observatoriumnya Jepang. Kami silih berbagi data terutama penampakan langit. Jepang tidak bisa melihat penampakan langit selatan dan kita tidak bisa mengamati langit belahan utara," ujar salah satu staf Bosscha, Agus Triono, yang biasa mengamati penampakan melalui teleskop GAO.

Teleskop Stevia (Survey Telescope For Exoplanet and Variable Star)

Stevia merupakan tipe teleskop reflektor Schmidt-Cassegrain dengan diameter cermin utama 27,9 cm dan panjang fokus 1,76 meter. Stevia dilengkapi dengan teleskop guider yang berfungsi menjaga kestabilan gerakan teleskop utama sehingga mampu mengikuti objek langit dalam waktu lama.

Teleskop ini menggunakan sistem kendali komputerisasi dan dapat dikendalikan secara jarak jauh dengan jaringan internet. Teleskop Stevia digunakan untuk penelitian mencari planet-planet baru yang ada di bintang-bintang.

Denny Mandey menjelaskan, teropong ini baru dimiliki lembaga tersebut pada 2014 dengan fokus mencari planet di gugusan bintang. Fokus penelitian dilakukan secara terus-menerus selama langit cerah.

Denny mencontohkan adanya indikasi bintang dapat dilihat dari pendar cahaya. Apabila cahaya bintang redup secara tiba-tiba, kemungkinan ada planet yang melintas.

"Prinsipnya seperti melihat gerhana matahari cahaya redup kan? Kita liatin terus nanti kalau beruntung ada planet yang lewat di depannya cahayanya redup. Cara lain dengan melihat bintangnya itu diam atau goyang-goyang. Kalau dia menunjukkan gejala seperti itu kemungkinan ada bintangnya," katanya.

Stevia juga digunakan dalam pengamatan objek dan peristiwa langit yang berlangsung singkat, seperti supernova dan okultasi bintang.

Teleskop Surya

Teleskop Surya ini terdiri dari tiga buah teleskop Coronado dengan tiga filter yang berbeda, serta sebuah teleskop proyeksi citra Matahari yang sepenuhnya dibuat sendiri. Teleskop Surya digunakan untuk mengamati aktivitas di permukaan matahari, terutama bintik matahari (sunspot) dan lidah api (prominesa). Penelitian aktivitas matahari ini begitu penting karena berhubungan dengan cuaca antariksa yang berdampak pada iklim di bumi, operasional satelit, saluran komunikasi, dan keselamatan penerbangan.

Denny sempat menceritakan mengenai siklus hidup matahari dari mulai terbentuk hingga sekarang. Menurutnya, saat ini manusia sedang hidup sekitar 4,5 miliar tahun usia matahari.

Teleskop Bosscha Robotik

Teleskop ini merupakan teleskop paling baru di Observatorium Bosscha. Secara umum teleskop ini digunakan untuk penelitian, survei, dan deteksi planet di bintang lain. Selain itu juga acap kali digunakan untuk penelitian asteroid berjarak dekat dengan bumi. Studi lain yang juga menggunakan teleskop ini adalah penelitian dan pengamatan berkala bintang variabel.

Teleskop yang terpasang di gedung surya ini dapat berjalan sepenuhnya secara otomatis dan beradaptasi terhadap kondisi langit dan lingkungan. Teleskop robot ini juga sepenuhnya dapat dikendalikan dari jarak jauh dengan menggunakan hubungan internet.

Teleskop Bamberg

Teropong Bamberg termasuk jenis refraktor yang ada di Observatorium Bosscha, dengan diameter lensa 37 Cm dan panjang fokus tujuh meter. Jangkauan teleskop ini hanya terbatas untuk pengamatan benda langit dengan jarak zenit 60 derajat, atau untuk benda langit yang lebih tinggi dari 30 derajat dan azimut dalam sektor Timur-Selatan-Barat.

Untuk objek langit yang berada di langit utara atau azimut sektor Timur-Utara-Barat tak dapat dijangkau oleh teleskop ini. Teropong Bamberg digunakan untuk pengamatan kurva cahaya bintang-bintang variabel, serta fotometri gerhana bintang, misalnya pengamatan kurva cahaya bintang ganda delta-Capricorni.

Teropong ini juga digunakan untuk pengamatan matahari dan permukaan bulan. Saat ini teleskop terbesar kedua di Observatorim Bosscha sudah tidak digunakan untuk penelitian, seiring dengan hadirnya teropong baru dengan teknologi canggih. Meski begitu, Bamberg tidak mati suri dan sering digunakan untuk pendidikan publik, misalnya pada malam umum, untuk melihat kawah bulan, bintang ganda visual, gugus bintang, planet-planet, dan benda langit lainnya secara langsung melalui okuler teropong.

Teleskop Ganda Zeiss

Teleskop ganda Zeiss 60 Cm ini berada pada satu-satunya gedung kubah di Observatorium Bosscha yang telah menjadi landmark Bandung utara selama lebih dari 90 tahun. Dibanding dengan teleskop-teleskop lainnya, masyarakat akan lebih mengenal teropong dalam kubah besar ini.

Bahkan banyak yang mengira teleskop ini adalah teropong Bosscha. Kubah Bangunan teropong dirancang oleh arsitek K C P Wolf Schoemacher, yang juga guru Presiden Soekarno. Teleskop dan gedung kubah ini merupakan sumbangan dari K A R Bosscha yang secara resmi diserahkan kepada Perhimpunan Astronomi Hindia-Belanda pada Juni 1928. Kubah gedung memiliki bobot 56 ton dengan diameter 14,5 M dan terbuat dari baja setebal dua milimeter.

Teleskop ini merupakan jenis refraktor (menggunakan lensa) dan terdiri dari dua teleskop utama dan satu teleskop pencari (finder). Diameter teleskop utama adalah 60 Cm dengan panjang fokus hampir 11 meter dan teleskop pencari berdiameter 40 Cm.

Medan pandang teleskop pencari adalah 1,5 derajat atau sekitar tiga kali diameter citra bulan purnama. Medan pandang langit yang luas ini memudahkan untuk mengidentifikasi bintang yang hendak diamati, dibandingkan dengan citra bintang di langit melalui peta bintang. Teleskop ini dapat mengamati bintang-bintang yang jauh lebih lemah cahayanya, kurang lebih 100 ribu kali lebih lemah dari bintang yang dapat dilihat oleh mata telanjang.

Teropong ganda Zeiss ini khusus untuk mengamati benda langit tertentu, seperti bintang ganda visual. Hingga saat ini terdapat koleksi sekitar 10 ribu data pengamatan bintang ganda visual yang diperoleh dengan menggunakan teleskop Zeiss. Selain itu, juga digunakan untuk pengukuran paralak bintang guna penentuan jarak  bintang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement