Kamis 05 Apr 2018 07:27 WIB

Facebook Hapus Akun dari Rusia yang Diduga Sebar Hoaks

Sebagian besar akun dan postingan yang dihapus berasal dari Federal News Agency (FAN)

Mark Zuckerberg
Foto: Bussinesinsider
Mark Zuckerberg

REPUBLIKA.CO.ID, SAN FRANSISCO -- Facebook semakin agresif dalam menindaklanjuti laporan penyalahgunaan media sosial  dengan menghapus ratusan akun dari Rusia yang diduga menjadi pabrik penyebar berita palsu.

Facebok mengatakan sebagian besar akun dan postingan yang dihapus tersebut berasal dari Federal News Agency (FAN) yang berkedudukan di Rusia. Menurut perusahaan itu, FAN secara teknologis dan struktural terhubung dengan badan Internet Research Agency yang berkantor di St Petersburg.

Kepala Pelaksana Facebook Mark Zuckerberg mengatakan kepada Reuters, FAN sudah berulangkali menipu dan memanipulasi banyak orang dari berbagai belahan dunia, dan ia tidak akan membiarkan mereka hadir di Facebook.

Perusahaan media sosial terbesar di dunia itu kini tengah mendapat tekanan besar untuk memperbaiki perlindungan privasi terhadap pengguna. Hal itu terutama setelah munculnya berita sekitar 50 juta informasi pengguna jatuh ke tangan bandan konsultasi politik Cambridge Analytica, yang pernah bekerja untuk tim kampanye Donald Trump.

Zuckerberg mengatakan kini mereka akan menghapus postingan yang bukan hoaks namun disebar oleh akun palsu yang punya sejarah menyebar berita palsu. "Dari bukti yang kami kumpulkan, jelas organisasi-organisasi itu dikuasai dan dioperasikan Internet Reasearch Agency (IRA)," kata dia.

Pada Februari lalu, IRA adalah salah satu dari tiga perusahaan Rusia yang didakwa kejaksaan khusus Amerika Serikat dengan tudingan turut campur dalam pemilu presiden dan mendukung Trump dengan menyebar berita negatif tentang kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Sebuah media di Rusia pada tahun lalu juga melaporkan FAN dan IRA pernah mempunyai alamat yang sama.

September lalu, Facebook mengatakan Rusia menggunakan Facebook untuk mencampuri politik dalam negeri Amerika Serikat, dengan mengunggah postingan di sosial media melalui akun palsu selama beberapa bulan menjelang pemungutan suara pada 2016.

Zuckerberg pada Selasa mengatakan mesin berkecerdasan artifisial yang dikembangkannya telah membantu melacak hubungan postingan-postingan itu dengan IRA. Dia menegaskan akan segera melakukan hal yang sama jika ada postingan bukan hoaks namun disebar oleh kelompok manipulator seperti IRA.

"Kami akan beroperasi sesuai dengan prinsip kami. Kami tidak akan membiarkan orang-orang membuat akun palsu, dan jika Anda berulangkali membuat akun palsu untuk menyebar kebohongan, maka kami akan menghapus semua akun Anda," kata Zuckerberg.

Facebook tengah berupaya melacak semua akun dalam jaringan IRA, yang terlibat dalam pendanaan akun-akun pro-Trump, pro-pengetatan perbatasan, dan sejumlah topik-topik lainnya. Kebijakan terbaru Facebook ini diperkirakan akan mendapat balasan keras dari otoritas internet Rusia.

Pada Oktober lalu, Google sempat menghapus berita-berita FAN dari indeks pencarian mereka. Langkah itu kemudian direspons otoritas media Roskomnadzor yang meminta penjelasan dari Google.

Google tidak lama setelahnya kembali menampilkan FAN dalam indeks pencarian. Facebook mengatakan akun-akun dalam jaringan FAN punya pengikut sekitar satu juta orang di Facebook dan 500 ribu di Instagram.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement