Senin 08 Jan 2018 06:46 WIB

Angon, Aplikasi Pewujud Mimpi Berinvestasi dengan Beternak

Rep: Nora Azizah/ Red: Winda Destiana Putri
Aplikasi di ponsel. Ilustrasi
Foto: Google
Aplikasi di ponsel. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Startup yang mengedepankan industri peternakan mulai bermunculan. Salah satunya aplikasi Angon, yakni platform yang menghubungkan antara peternak dan investor.

Founder Aplikasi Angon Agif Arianto mengungkapkan, alasan berdirinya platform tersebut disebabkan situasi para peternak yang kini enggan lagi beternak. "Beternak membutuhkan operasional cukup tinggi, namun ketika hewan ternak tersebut dijual harganya tergolong cukup murah," jelas Agif, ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Namun kebutuhan Indonesia untuk konsumsi daging hewan ternak cukup tinggi, yakni sekitar 50 juta populasi ternak untuk memenuhi swasembada daging. Saat ini, Indonesia baru memenuhi 12 juta populasi hewan ternak. Angon ingin mendorong sisi bisnis peternakan, yakni dengan aplikasi para peternak bisa menyukai pekerjaannya kembali. Hal tersebut bisa dipenuhi dengan memberikan pendapatan atau gaji tetap setiap bulan. Sebab, sebelumnya peternak tidak memiliki pendapatan tersebut.

Agif mengatakan, sisi bisnis peternakan juga bisa didorong dengan mendatangkan investor. Faktanya, sebagian orang tertarik di dunia bisnis peternakan. Bahkan beternak menjadi salah satu pilihan investasi menjanjikan. Namun para investor tersebut kesulitan dalam menanam modal karena terbentur waktu atau keterampilan mengelola peternakan. Angon menjadi sebuah platform yang mempertemukan para investor dari kaum urban untuk berinvestasi di sentra peternakan rakyat. Konsep beternak di dalam Angon, investor harus melalui tiga tahap.
 
Pertama, investor mendaftar di dalam aplikasi kemudian memilih jenis hewan ternak yang terdiri dari sapi dan domba. Kemudian investor wajib membayar hewan ternak sesuai harga yang ditetapkan. Namun biaya tersebut belum mencakup uang perawatan. Biaya perawatan bergantung pada jenis hewan ternak. Angon menetapkan harga perawatan mulai dari Rp 380 ribu per bulan. Dengan biaya tersebut investor sudah mendapatkan layanan perawatan hewan ternak, mulai dari pakan, biaya perawatan sewa kandang, upah peternak yang merawat hewan tersebut, dan asuransi ternak.
 
Uang perawatan tersebut kemudian dialokasikan ke peternak. Satu peternak boleh mengambil alih sekitar 100 hewan ternak. Dalam menjalin kerja sama dengan peternak, Angon tidak sembarangan. Peternak harus mendaftar terlebih dahulu melalui situs resmi Angon. Setelah lolos verifikasi data dan administrasi, survey lokasi peternakan juga dilakukan. Hal tersebut diperlukan untuk melihat kualitas dan kondisi kandang serta hewan ternak. 
 
Kemudian para peternak juga wajib mengikuti workshop untuk mendapatkan bekal ilmu beternak dari para pakar yang telah bekerja sama dengan Angon. Satu peternakan bisa mengikuti konsep beternak online dengan minimum hewan 50 ekor. Namun bila satu peternak memiliki jumlah hewan kurang dari angka tersebut tetap bisa bergabung. Angon menyediakan peternakan komunal bagi para peternak yang hanya memiliki sedikit hewan ternak.
 
Tugas Angon tidak berhenti sampai titik tersebut. Setelah hewan ternak memiliki investor, para peternak juga akan diawasi oleh pengawas sentra. "Kami ingin para peternak ini fokus saja beternak, dan mereka sudah mendapatkan gaji tetap," lanjut Agif. Para peternak juga harus mengikuti aturan Angon. Peternak wajib disiplin dan mematuhi peraturan tersebut. Misalnya, melakukan vaksin pads hewan, memberi makan, dan tugas lainnya. Data dari hewan ternak wajib diberikan dua kali dalam satu bulan.
 
Biasanya, target kenaikan berat badan ternak sekitar 3,5 kilogram per bulan. Apabila peternak bisa menembus target maka akan tetap dipekerjakan. Bahkan bila angka tersebu berlebih, peternak bisa mendapatkan hadian Rp 5 ribu untuk setiap berat badan yang melebih target. Peternak yang tidak disiplin maka akan langsung diblok dan diberhentikan sehingga tidak bisa beternak kembali bersama Angon.
 
Sejak berdiri Oktober 2016, data pencapaian Angon sudah mendapatkan view user 1,1 juta, 11 ribu total hewan ternak, sekitar 1500 transaksi per bulan. Saat ini, sudah 223 peternak bergabung bersama Angon di tujuh lokasi peternakan yang tersebar di Bogor, Yogyakarta, Sumbawa, Sukoharjo, dan beberapa wilayah lain. Angon sudah memiliki sekitar 9 ribu investor yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara lain, seperti Belanda, Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan.
 
Setelah satu tahun berdiri, respons keberadaan platform Angon mengundang banyak pihak terkait bisnis peternakan. Hanya saja Angon masih kesulitan memenuhi permintaan dan kebutuhan, khususnya dalam melakukan seleksi peternak yang bisa bergabung. Dari sekitar 13 ribu peternak yang mendaftar, Angon baru bisa merangkul ratusan saja. "Kami harus hati-hati dan cermat, meng-online-kan hewan ternak perlu ketelitian," jelas Agif. Angon juga bekerja sama dengan sebuah platform dompet virtual untuk mengurus seluruh transaksi keuangan.
 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement