Kamis 23 Nov 2023 21:21 WIB

Teleskop Webb Ungkap Keindahan Tersembunyi di Inti Galaksi Bima Sakti

Di inti galaksi, hadir protobintang masif yang menarik perhatian para peneliti.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Natalia Endah Hapsari
 Dengan menggabungkan teknologi inframerah canggih, teleskop Webb telah menangkap detail-detail yang mendalam dari Sagitarius C (Sgr C), bagian pusat dari Bima Sakti
Foto: NASA
Dengan menggabungkan teknologi inframerah canggih, teleskop Webb telah menangkap detail-detail yang mendalam dari Sagitarius C (Sgr C), bagian pusat dari Bima Sakti

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Teleskop Luar Angkasa James Webb telah mengungkapkan pemandangan luar biasa yang sebelumnya tidak pernah terlihat. Dengan menggabungkan teknologi inframerah canggih, teleskop ini telah menangkap detail-detail yang mendalam dari Sagitarius C (Sgr C), bagian pusat dari Bima Sakti yang menjadi tempat terbentuknya bintang-bintang dengan kecepatan yang menakjubkan.

Dengan panjang gelombang inframerahnya, Webb berhasil menembus awan tebal gas kosmik yang selama ini menjadi penghalang bagi teleskop-teleskop lain. Dalam gambar yang diperoleh oleh instrumen NIRCam (Near-Infrared Camera), para ilmuwan telah memeriksa lebih dari sekadar bintang-bintang. Mereka menemukan keberadaan setengah juta bintang yang bersinar dalam wilayah Sgr C, dengan beberapa fitur yang masih misterius.

Baca Juga

Dilansir SEA Mashable pada Kamis (22/11/2023), salah satu sorotan utama adalah gugusan protobintang yang terlihat di kiri-tengah gambar, menampilkan sekumpulan bintang yang sedang dalam tahap pertumbuhan. Dalam gugus ini, terdapat protobintang masif yang menarik perhatian para peneliti. Namun, kepadatan yang tinggi di sekitarnya membuat cahaya dari bintang lainnya sulit untuk mencapai teleskop Webb, yang menjadikan area ini tampak kurang ramai meskipun sebenarnya merupakan salah satu wilayah terpadat dalam gambar.

Selain itu, wilayah gas yang sangat luas dan berwarna cyan, yang mencakup area sekitar 25 tahun cahaya, juga menjadi fokus penelitian. NASA menyebutnya sebagai gas hidrogen dengan struktur yang tidak homogen. Ini memberikan tantangan bagi peneliti untuk menyelidiki faktor apa yang mendorong terbentuknya awan gas sebesar ini.

Namun, perlu dicatat bahwa fitur penting seperti lubang hitam supermasif di inti Bima Sakti tidak ditampilkan dalam gambar ini. Lubang hitam ini, yang dikenal sebagai Sagitarius A*, memiliki massa sekitar empat juta kali lipat dari Matahari dan merupakan titik pusat dari galaksi kita.

Teleskop Webb, yang merupakan hasil kolaborasi antara NASA, ESA, dan Badan Antariksa Kanada, telah membawa revolusi dalam pemahaman kita tentang alam semesta. Dengan cermin raksasanya dan kemampuan inframerah yang luar biasa, Webb telah membuka jendela baru bagi para astronom untuk mengintip masa lalu kosmos, memeriksa bintang-bintang dan galaksi yang terbentuk miliaran tahun lalu.

Tidak hanya itu, peralatan khusus yang dibawa oleh Webb, seperti spektrograf, memungkinkan kita untuk mengidentifikasi molekul-molekul yang ada di atmosfer planet ekstrasurya di galaksi Bima Sakti. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk mengeksplorasi planet-planet yang jauh di luar tata surya kita, sehingga membuka potensi penemuan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Dengan keberhasilan melihat reaksi kimia di planet berjarak 700 tahun cahaya dan pengamatan awal terhadap planet berbatu berukuran Bumi di sistem TRAPPIST, teleskop Webb menjanjikan untuk terus mengungkap rahasia alam semesta yang menyimpan keindahan dan misteri yang belum terpecahkan.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement