Rabu 15 Nov 2023 04:26 WIB

Indonesia Darurat Kesehatan Jiwa, Apa Penyebabnya?

Kasus kesehatan jiwa menjadi semakin mengkhawatirkan.

Rep: Santi Sopia/ Red: Natalia Endah Hapsari
 Kasus perundungan merupakan cikal bakal gangguan jiwa di Indonesia./ilustrasi
Foto: pixabay
Kasus perundungan merupakan cikal bakal gangguan jiwa di Indonesia./ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa saat ini, satu dari 10 orang Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Ada setidaknya tiga masalah yang membuat tingginya ganguan mental di Indonesia sehingga bisa tergolong darurat.

Dr Ray Basrowi, ketua Health Collaborative Centre (HCC), mengatakan penyebab pertama adanya stigma yang tinggi dengan korelasi 100 persen. Hal ini mengartikan bahwa ketika seseorang merasakan masalah pada mentalnya, dia takut memeriksakan diri karena stigma di masyarakat. Akhirnya, jika terus dipendam bisa membuat kondisi itu semakin parah.

Baca Juga

“Lalu masalah kedua dengan korelasi 80 persen menunjukkan bahwa keluarga, sekolah tempat kerja tidak ramah kesehatan jiwa,” kata Dr Ray dalam acara “Diskusi Publik dan Deklarasi Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa” di Jakarta, Selasa (14/11/2023).

Berikutnya, ternyata menurut para ahli, kasus kesehatan jiwa menjadi semakin mengkhawatirkan karena adanya fenomena self diagnostic dengan 60 persen korelasi, di mana banyak orang yang lebih suka mendiagnosis diri sendiri daripada mendatangi ahli. Tentu hasil diagnosis sendiri belum tentu tepat.

Adapun populasi kunci untuk menanggulangi gangguan kesehatan mental ini perlu dilakukan sejak dari 1.000 hari kehidupan pertama. 

Kedua, pada remaja dan anak sekolah karena kasus perundungan merupakan cikal bakal gangguan jiwa di Indonesia. “Pekerja dan usia produktif juga tidak boleh ditinggalkan, sebaliknya kunci agar tidak gangguan jiwa di Indonesia tidak semakin kronis adalah populasi lanjut usia juga harus menjadi perhatian,” lanjut dia.

Dr Ray mengatakan seharusnya suatu negara mencakup dua aspek yaitu kesehatan fisik dan jiwa dengan tujuan holistik agar menciptakan sumber daya terbaik suatu bangsa. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidak ada kesehatan fisik apabila tidak ada kesehatan jiwa.

Dia juga mencontohkan kasus gangguan jiwa ini bisa sesimpel seorang ibu yang merasa tidak berhasil memberikan ASI eksklusif yang akhirnya mengalami depresi setelah melahirkan. Kemudian pemuda yang bipolar akibat pandemi Covid-19 dan ingin bunuh diri, hingga anak tujuh tahun didiagnosis PTSD akibat riwayat perundungan di keluarga.

Melihat fenomena ini, Dr Ray dan beberapa tokoh lain, seperti Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Prof. Dr. FX Mudji Sutrisno, SJ., Prof. Dr. Drs. Semiarto Aji Purwanto, M.Si., Dr. Adriana Elisabeth, Maria Ekowati, dan Kristin Sama, menginisiasi berdirinya Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa yang dideklarasikan pada Selasa (14/11/2023) di Perpustakaan Nasional, Jakarta. 

Penelitian terbaru dari Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa mengonfirmasi bahwa isu kesehatan jiwa adalah topik prioritas dan urgent, karena dampaknya yang luar biasa besar terhadap populasi 1000 hari pertama kehidupan, anak sekolah dan remaja serta kalangan pekerja dan usia produktif. Penting untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengatasi masalah gangguan jiwa di Indonesia. 

Bagi yang merasa punya beban masalah mental bisa segera menemui ahli, seperti dokter jiwa, dan psikiater atau psikolog, baik secara langsng atau daring lewat aplikasi. Atau bisa juga menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620 dan alamat email [email protected]

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement