Senin 15 May 2023 14:15 WIB

Benarkah AI Dapat Diagnosis Serangan Jantung dengan Cepat dan Akurat?

Alat AI baru dapat mendiagnosis dengan lebih cepat dan akurat.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Natalia Endah Hapsari
Selain membantu menyelesaikan pekerjaan bidang kreatif, kecerdasan buatan (AI) ternyata juga dapat membantu para petugas medis. Alat AI baru sekarang dapat mendiagnosis dengan kecepatan dan akurasi yang lebih baik dari sebelumnya./ilustrasi
Foto: Foto : MgRol_92
Selain membantu menyelesaikan pekerjaan bidang kreatif, kecerdasan buatan (AI) ternyata juga dapat membantu para petugas medis. Alat AI baru sekarang dapat mendiagnosis dengan kecepatan dan akurasi yang lebih baik dari sebelumnya./ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selain membantu menyelesaikan pekerjaan bidang kreatif, kecerdasan buatan (AI) ternyata juga dapat membantu para petugas medis. Alat AI baru sekarang dapat mendiagnosis dengan kecepatan dan akurasi yang lebih baik dari sebelumnya.

Para peneliti telah mengembangkan algoritme yang menurut mereka dapat mengurangi tekanan pada kecelakaan dan situasi darurat serta meyakinkan pasien yang mengalami nyeri dada.

Baca Juga

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine, mengungkapkan, dibandingkan dengan metode pengujian saat ini, algoritme mereka mampu mencegah serangan jantung pada lebih dari dua kali lipat jumlah pasien dengan akurasi 99,6 persen.

Tim dari University of Edinburgh mengatakan kemampuan cepat mencegah serangan jantung dapat mempercepat pasien yang aman untuk pulang. Standar untuk mendiagnosis serangan jantung dalam hal ini melibatkan pengukuran kadar protein troponin dalam darah.

Namun, faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan masalah kesehatan lain memengaruhi kadar troponin tidak dipertimbangkan. Nantinya akan berdampak pada keakuratan diagnosis serangan jantung.

Penelitian sebelumnya menunjukkan wanita 50 persen lebih mungkin mendapatkan diagnosis awal yang salah dan orang yang salah didiagnosis memiliki risiko kematian 70 persen lebih tinggi setelah 30 hari. Tim mengatakan algoritme baru mereka yang disebut CoDE-ACS adalah sebuah peluang.

AI ini dikembangkan menggunakan data dari 10.038 pasien di Skotlandia yang tiba di rumah sakit dengan dugaan serangan jantung. Selain itu, AI menggunakan informasi pasien yang dikumpulkan secara rutin, seperti usia, jenis kelamin, temuan elektrokardiogram (EKG) dan riwayat medis serta tingkat troponin untuk memprediksi kemungkinan seseorang mengalami serangan jantung.

Hasilnya disajikan sebagai skor probabilitas dari 0 hingga 100 untuk setiap pasien. Pemimpin studi, Profesor Nicholas Mills, mengatakan pasien dengan nyeri dada akut akibat serangan jantung, diagnosis dini dan pengobatan dapat menyelamatkan nyawa.

Namun, banyak kondisi yang menyebabkan gejala umum ini dan diagnosisnya tidak selalu mudah. “Memanfaatkan data dan AI untuk mendukung keputusan klinis memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan perawatan bagi pasien dan efisiensi di unit gawat darurat (UGD) kita yang sibuk,” kata dia, dikutip Daily Mail, Senin (15/5/2023).

Direktur Medis British Heart Foundation, Profesor Sir Nilesh Samani, yang mendanai penelitian tersebut, menyebut nyeri dada adalah salah satu alasan paling umum orang datang ke UGD. Setiap hari dokter di seluruh dunia menghadapi tantangan untuk memisahkan pasien yang sakitnya disebabkan oleh serangan jantung dari mereka yang sakitnya disebabkan oleh sesuatu yang kurang serius.

“CoDE-ACS bisa menjadi transformasional untuk UGD, mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk membuat diagnosis dan jauh lebih baik untuk pasien,” ujarnya.

Angka menunjukkan ada sekitar 100 ribu rawat inap setiap tahun di Inggris karena serangan jantung yang setara dengan satu setiap lima menit. Uji klinis sekarang sedang dilakukan di Skotlandia untuk menilai apakah alat AI dapat membantu dokter mengurangi tekanan pada UGD. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement