Rabu 23 May 2018 15:10 WIB

Menyingkap Fenomena Pelatihan MNR

Guru dituntut memahami fenomena pendidikan yang terbaru, termasuk HOTS.

Peserta pelatihan Matematika Nalaria Realistik (MNR).
Foto: Dok
Peserta pelatihan Matematika Nalaria Realistik (MNR).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin tidak terelakkan. Terlebih, baru-baru ini terjadi diskusi hangat terkait fenomena soal high order thinking skill (HOTS) pada ujian nasional mata pelajaran matematika. Selain pelajar, mau tak mau para guru pun dituntut memahami dan menguasai ikhwal HOTS.

Sejak September 2017, Klinik Pendidikan MIPA telah menjadi tuan rumah penyelenggaraan pelatihan yang digelar selama empat hari tiga malam yang bertempat di padepokan Amir Syahrudin, Ruko KPM Laladon. Pelatihan ini telah disambangi ratusan peserta dari berbagai latar belakang, di antaranya: akademisi, guru, dosen, peneliti, anggota dewan pendidikan, dan profesi lainnya.

Pada tanggal 17-20 Mei 2018 lalu, pelatihan ini telah memasuki gelombang ke-12. Tentu program ini  mendapat apresiasi positif dari berbagai kalangan.

photo
Peserta pelatihan berdiskusi.

Para peserta pelatihan saling berbagi pengalaman, berdiskusi, serta saling mendengar dan belajar bersama para pelatih KPM. Adapun materi yang disajikan di antaranya: motivasi menjadi guru hebat dan berkah melalui cara berpikir suprarasional, masalah nyata, pemahaman konsep, berhitung matematika metode kotak-kotak, dan penalaran komunikasi. Bahkan permainan eksplorasi pun tidak ketinggalan menjadi bahan pembelajaran.

Berawal dari rasa tak percaya, Mulyadi, guru SMK dari Indramayu ini datang ke kantor Klinik Pendidikan MIPA. Mulyadi merupakan salah satu peserta pelatihan Matematika Nalaria Realistik (MNR) yang dihelat selama empat hari di Bogor.

"Saya awalnya tidak percaya bahwa ada pelatihan matematika dengan biaya seikhlasnya. Setelah saya daftar dan ikut pelatihan ini, saya menyadari bahwa ini memang nyata. Dari pelatihan MNR ini, saya belajar banyak tentang metodologi pembelajaran MNR secara utuh. ” tutur Mulyadi.

Pelatihan yang diikuti oleh 29 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Meskipun sebagian besar peserta pelatihan sedang menjalankan ibadah puasa, tapi semangat belajar mereka tetap luar biasa. Seperti penuturan  peserta pelatihan yang berprofesi sebagai dosen di salah satu kampus di Bengkulu.

”Dengan konsep seikhlasnya, kiprah Klinik Pendidikan MIPA yang bereputasi nasional dan bahkan sudah meng-internasional layak dijadikan contoh nyata bagi lembaga lain di Indonesia. "Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan para pelatih dan teman-teman peserta yang memberikan sharing ilmu dan pengalaman terbaik di bidang pendidikan, ” ungkap Novia Paramita.

Pada sesi penutup, Ryky Tunggal Saputra Aji selaku Wakil Kepala Divisi Pelatihan menyampaikan pelatihan ini merupakan cara yang baik untuk saling tukar-menukar pengetahuan. “Namun, KPM berharap bukan berakhir sampai di sini saja. Partisipasi aktif yang terus-menerus dan output nyata sangat diharapkan. Terlebih, KPM sudah membuka kesempatan kerja sama dengan membuka Rumah Pendidikan MIPA (RPM), Klub Matematika Seikhlasnya (KMS), dan Sekolah Center (SC),” tutur Ryky.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement