Senin 18 Jul 2016 21:42 WIB

'Kekhawatiran Pokemon Go Bahayakan Keamanan Negara Berlebihan'

Permainan Pokemon Go di ponsel.
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Permainan Pokemon Go di ponsel.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pakar keamanan siber Pratama Dahlian Persadha menilai kekhawatiran gim Pokemon Go membahayakan keamanan negara tidak perlu berlebihan.

Kekhawatiran beberapa pihak, terutama karena Pokemon Go menandai beberapa titik lokasi strategis sebagai Pokestop dan Gym. Muncul anggapan Pokemon Go bisa memetakan lokasi-lokasi strategis yang dapat membahayakan negara. Menurut Pratama, data-data gim tersebut dikirim ke server pengembangnya, bukan pihak-pihak yang mencurigakan.

Menurut pengecekan tim Lembaga Riset Keamanan Siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), pertama kali memainkan Pokemon Go, aplikasi akan diarahkan ke https://stats.unity3d.com yang merupakan mesin gim pokemon. Posisi server berada di Kalifornia. Lalu dilanjutkan ke https://appload.ingest.crittercism.com, juga di Kalifornia.

Ia menjelaskan Crittercism adalah mobile application performance management (APM) yang dipakai Pokemon Go. Selanjutnya saat gim dimainkan, data akan dikirimkan ke https://pgorelease.nianticlabs.com.

Baca: Pakar: Pokemon Go Aman Dipasang

Bila dilihat dari permission, aplikasi Pokemon Go tidak meminta run at startup. Kebanyakan malware (perangkat perusak) pasti berusaha untuk run at startup. Untuk Pokemon Trainer Club sendiri, autentikasi dikirimkan ke https://sso.pokemon.com/sso/.

"Selain itu, ketakutan yang beredar di tengah masyarakat salah satunya adalah foto lokasi kita menangkap Pokemon dikirimkan juga ke server Pokemon Go. Hal ini sangat berlebihan," kata pria yang pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengamanan Sinyal Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Senin (18/7).

Dari riset yang dilakukan CISSReC, besar data yang dikirimkan ke server Niantic tidak lebih dari 50 KB saja. File data sebesar ini tidak cukup untuk file foto dengan kualitas bagus.

"Kalau ingin membuktikan bisa dicoba sendiri menggunakan aplikasi monitoring bandwidth, seperti My Data Manager. Kita capture foto di suatu tempat, terus dikirimkan via surat elektronik (e-mail) ke salah satu kontak yang ada," katanya.

Jika dibandingkan dengan data saat menangkap Pokemon dengan latar belakang foto di tempat yang sama, kata dia, perbandingan besar data yang dikirimkan sangat jauh sekali walau pakai kompresi sekalipun. "Sebagai perbandingan sekali mengcapture foto di layar full HD, file foto yang dihasilkan bisa berkisar sampai 3 MB. Jauh dibandingkan dengan data yang terkirim setiap kali kita menangkap Pokemon, tidak lebih dari 50 KB," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement