Rabu 16 May 2018 21:58 WIB

Delapan Startup Indonesia Ikuti CeBIT Sydney

Kedelapan perusahaan rintisan itu mengikuti CeBIT yang digelar pada 15-17 Mei 2018.

CeBIT
Foto: Automotiveit
CeBIT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Delapan perusahaan rintisan atau start up Indonesia memamerkan inovasi mereka pada Centrum fur Buroautomation, Informationteknologie und Telekomunikation (CeBIT). Pameran teknologi dan informasi terbesar di Australia ini digelar di Sydney pada 15-17 Mei 2018.

Keterangan dari Konsulat Jenderal RI di Sydney yang diterima di Jakarta, Rabu (16/5) menyebutkan bahwa Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan dan Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (ITPC) Sydney membuka Paviliun Indonesia bertema "Archipelageek" yang resmi dibuka pada Selasa (15/5).

Konsul Jenderal RI Sydney, Heru Subolo, hadir dalam pameran tersebut untuk membuka Paviliun Indonesia di International Convention Center Sydney bersama Deputi Pemasaran Bekraf, Josua Simanjuntak; Deputi Infrastruktur, Hari Sungkari; Atase Perdagangan KBRI Canberra; Iman Nurmansyah dan Kepala ITPC, Agung Haris Setiawan.

"CeBIT dapat menjadi sarana untuk memamerkan capaian sektor digital Indonesia kepada masyarakat Australia dan memperkuat hubungan bisnis dengan berbagai pelaku digital di Australia," kata Konjen Subolo.

Dia berharap partisipasi Indonesia dalam kegiatan itu dapat menarik investasi dan menjalin kerja sama untuk meningkatkan produk digital Indonesia.

Delapan perusahaan rintisan Indonesia yang terpilih melalui proses kurasi untuk berpartisipasi dalam CeBIT adalah Squiline, Medico, 8Villages, Nicslab, Yava-Solusi 247, Jojonomic, Ukirama, dan Metabuilders (Merakyat.co).

Para peserta pameran tersebut menawarkan berbagai solusi inovatif. Dimulai dari manajemen rumah sakit, manajemen data, manajemen usaha, belajar bahasa secara "online" atau dalam jaringan (daring), sarana penelitian yang efisien dan sistem peningkatan kualitas produksi pertanian.

Salah satu pendiri Squline, Tomy Yunus Tjen, berharap partisipasi perusahannya di CeBIT dapat memperbayak dan memperluas pengguna "platform" belajar bahasa secara daring yang dikembangkannya kepada para masyarakat di Australia yang tertarik belajar Bahasa Indonesia.

Sementara itu, Kevin Eka Putra, salah satu pendiri Ukirama, yang juga alumni Universitas New South Wales, berharap keikutsertaannya di CeBIT kali ini dapat menjadi inspirasi bagi para pelajar Indonesia untuk berkarya di sektor digital Indonesia.

CeBIT Australia 2018 telah dibuka secara resmi oleh Menteri Keuangan, Layanan dan Properti Pemerintah New South Wales, Victor Dominello dan akan berlangsung selama tiga hari.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement