Jumat 19 Jan 2024 20:55 WIB

BMKG: Kondisi Tektonik Sumber Gempa Sumedang Semakin Stabil

Dalam enam hari terakhir tidak terjadi gempa di Sumedang.

Petugas membangun tenda bagian dari rumah sakit darurat di halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumedang, di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (3/1/2023). Pasca gempa Magnitudo 4.8 jelang Tahun Baru pekan lalu, gempa susulan masih mengguncang wilayah Kabupaten Sumedang. Terakhir, gempa berkekuatan lebih rendah Magnitudo 2,3 terjadi Rabu dini hari. Saat ini semua pihak dan unsur terkait tetap waspada dengan membangun sejumlah fasilitas darurat.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Petugas membangun tenda bagian dari rumah sakit darurat di halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumedang, di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (3/1/2023). Pasca gempa Magnitudo 4.8 jelang Tahun Baru pekan lalu, gempa susulan masih mengguncang wilayah Kabupaten Sumedang. Terakhir, gempa berkekuatan lebih rendah Magnitudo 2,3 terjadi Rabu dini hari. Saat ini semua pihak dan unsur terkait tetap waspada dengan membangun sejumlah fasilitas darurat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan kondisi tektonik sumber gempa di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, semakin stabil. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dalam keterangannya menyebut aktivitas gempa bumi yang terjadi di Sumedang secara umum tren magnitudonya semakin mengecil secara fluktuatif dengan frekuensi kejadian gempa yang semakin jarang terjadi.

"Bahkan dalam 6 hari terakhir sejak tanggal 13 Januari 2024 aktivitas gempa bumi di Sumedang nihil (tidak terjadi). Ini menjadi petunjuk, bahwa kondisi tektonik sumber gempa Sumedang tampak semakin stabil untuk kemudian menuju aman kembali," ujar Daryono, Jumat (19/1/2024).

Baca Juga

Hasil monitoring gempa bumi Sumedang yang dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak 31 Desember 2023 hingga 19 Januari 2024 menunjukkan telah terjadi sebanyak 23 kali gempa berlokasi di darat tepatnya di Kota Sumedang dan sekitarnya.

Rincian yaitu pada Gempa Pertama, M4,1 kedalaman 7 km pukul 14.35 WIB merupakan gempa pembuka 1, tidak merusak. Kemudian gempa Kedua, M3,4 kedalaman 6 km pukul 15.38 WIB merupakan gempa Pembuka 2, tidak merusak.

Gempa ketiga, M4,8 kedalaman 5 km pukul 20.34 WIB, yang merupakan gempa utama yang merusak. Gempa berikutnya sebanyak 20 kali dengan kekuatan berkisar M1,4 sampai dengan M4,5 adalah gempa Susulan yang tidak merusak.

Wilayah Jawa Barat merupakan kawasan aktif gempa bumi tektonik. Hal ini disebabkan karena wilayahnya yang berdekatan dengan zona tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia di Samudra Hindia.

Aktivitas gempa bumi di Jawa Barat banyak diakibatkan oleh aktivitas pergerakan Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi ke bawah Lempeng Eurasia di zona subduksi dan patahan/sesar aktif di daratan.

"Sumber gempa patahan/sesar aktif di Jawa Barat cukup banyak, tersebar mengelilingi Sumedang diantaranya adalah Sesar Cimandiri, Sesar Cugenang, Sesar Lembang, Sesar Cipamingkis, Sesar Garsela, Sesar Baribis, Sesar Cicalengka, Sesar Cileunyi-Tanjungsari, Sesar Tomo, Sesar Cipeles, serta beberapa sesar aktif lainnya yang belum terpetakan," ujar Daryono.

Berdasarkan catatan sejarah gempa bumi merusak yang bersumber dari Katalog Gempa Bumi Merusak BMKG, di wilayah Jawa Barat belum pernah terjadi gempa besar dengan magnitudo hingga mencapai kekuatan M7,0 yang bersumber dari sesar aktif di daratan.

Untuk itu, kepada masyarakat Sumedang dihimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan informasi dan pemberitaan yang belum terverifikasi kebenarannya, seperti halnya informasi mengenai akan terjadinya gempa dengan kekuatan yang lebih besar di Sumedang dan lain-lain.

"Percayakan informasi mengenai gempa bumi kepada Lembaga Resmi yang memiliki tugas pokok dan fungsi memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami, yaitu BMKG," kata Daryono.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement