Kamis 05 Oct 2023 16:48 WIB

Tingginya Hingga 15 Kali Monas, Lihat Penampakan 'Setan Debu' Raksasa di Mars

Robot penjelajah NASA merekam setan debu tersebut selama sekitar 84 detik.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Natalia Endah Hapsari
Penjelajah Perseverance milik NASA telah menangkap rekaman langka dari angin puting beliung yang menjulang tinggi atau ‘setan debu’, yang menari-nari di permukaan Mars.(dilingkari merah)
Foto: NASA
Penjelajah Perseverance milik NASA telah menangkap rekaman langka dari angin puting beliung yang menjulang tinggi atau ‘setan debu’, yang menari-nari di permukaan Mars.(dilingkari merah)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penjelajah Perseverance milik NASA telah menangkap rekaman langka dari angin puting beliung yang menjulang tinggi atau ‘setan debu’, yang menari-nari di permukaan Mars. Pusaran debu ini lebih tinggi dari rata-rata tornado AS dan lima kali lebih tinggi dari Empire State Building atau mencapai 15 kali Monas.

Dilansir dari Live Science, Kamis (5/10/2023), penjelajah tersebut melihat badai yang berputar-putar pada 30 Agustus 2023, pada hari Sol atau hari Mars ke-899, dalam misinya di Planet Merah itu. Robot pengembara itu merekam setan debu tersebut selama sekitar 84 detik saat ia mengamuk di atas punggung bukit terdekat sekitar 2,5 mil (4 kilometer) jauhnya.

Baca Juga

Video time-lapse dari setan debu, yang menunjukkan aksinya dengan kecepatan 20 kali lipat, dibagikan secara online oleh Jet Propulsion Lab (JPL) NASA pada 29 September.

Angin puting beliung yang menjulang tinggi itu bergerak dengan kecepatan sekitar 12 mph (19 km/jam) dan lebarnya kira-kira 200 kaki (61 meter). Ketinggian maksimumnya mencapai 387 kaki (118 m) dalam video, tetapi bagian atas badai telah terpotong, sehingga ketinggian sebenarnya tidak diketahui. Namun, para peneliti memperkirakan ukurannya sangat tinggi.

“Kami tidak melihat puncak setan debu, namun bayangan yang ditimbulkannya memberi kami indikasi yang baik mengenai ketinggiannya,” kata ilmuwan planet di Space Science Institute di Boulder, Colorado, Amerika Serikat, yang juga anggota Perseverance tim sains, Mark Lemmon.

Sebagian besar berbentuk ruang vertikal. Jika setan debu ini dikonfigurasi seperti itu, bayangannya akan menunjukkan tingginya sekitar 2 km.

Setan debu terbentuk ketika sel-sel udara hangat yang naik bercampur dengan ruang-ruang udara dingin yang turun. Mereka juga terbentuk di Bumi, khususnya di tempat kering dan berdebu seperti Arizona, dan biasanya memiliki lebar antara 10 dan 300 kaki (3 dan 91 m) dan tinggi 500 hingga 1.000 kaki (152 dan 305 m).

Secara umum, setan debu Mars lebih lemah dan lebih pendek dibandingkan pusaran debu yang ditemukan di Bumi. Namun yang jelas, angin puyuh yang baru-baru ini terekam jauh lebih tinggi. Berdasarkan perkiraan para peneliti, pusaran tersebut lebih tinggi dari rata-rata tornado AS, yang bisa mencapai ketinggian antara 1.640 hingga 4.920 kaki (500 dan 1.500 m).

Tidak jelas mengapa setan debu ini begitu tinggi. Namun tidak seperti tornado Bumi, yang hanya bisa tumbuh setinggi awan di atasnya, tidak ada yang menghalangi ketinggian setan debu Mars.

Dalam studi tahun 2018 yang diterbitkan di jurnal Icarus, para peneliti memperkirakan bahwa pada hari tertentu setidaknya ada satu setan debu per kilometer persegi di Mars, yang setara dengan sekitar 145 juta per hari. Akibatnya, setan debu kemungkinan besar menjadi pengangkut utama debu di Mars.

Karena cara setan debu membentuk kembali lingkungan Mars, penjelajah Perseverance dan Curiosity terus-menerus mencari angin puting beliung di dekatnya. Sejauh ini, Perseverance telah menyaksikan lusinan setan debu.

Pada tahun 2021, untuk pertama kalinya, para peneliti merekam suara setan debu yang melewati Perseverance. Hal ini memungkinkan penjelajah untuk melacak bagaimana partikel bergerak di dalam pusaran dan memberikan petunjuk tentang bagaimana mereka terbentuk dan tumbuh.

Setan debu bukan satu-satunya angin puting beliung luar angkasa yang tertangkap kamera tahun ini. Pada Maret 2023, sebuah ‘tornado matahari’ yang sangat besar, tingginya melebihi 14 kali Bumi, mengamuk di permukaan matahari selama lebih dari tiga hari setelah gumpalan plasma terperangkap dalam medan magnet yang berputar cepat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement