Senin 25 Sep 2023 16:12 WIB

Deteksi Bahaya Lewat Menguap, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Seseorang menguap akan memicu perubahan neurokognitif.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Natalia Endah Hapsari
 Menguap berevolusi sebagai sinyal bahwa salah satu dari mereka lelah. (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Menguap berevolusi sebagai sinyal bahwa salah satu dari mereka lelah. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Alasan mengapa seseorang menguap telah lama menjadi misteri. Tapi sebuah penelitian menunjukkan, kemungkinan hal itu dikarenakan menguap dapat membantu menghindari bahaya.

Dilansir dari Daily Mail, Senin (25/9/2023), peneliti menemukan bahwa melihat seseorang menguap, membuat orang yang melihat itu lebih waspada terhadap ancaman.

Baca Juga

Diperkirakan bahwa menguap berevolusi sebagai sinyal bahwa salah satu dari mereka lelah. Otak orang yang melihatnya menjadi lebih waspada terhadap ancaman untuk melindungi anggota kelompok yang kelelahan.

Hipotesis kewaspadaan kelompok ini menyatakan bahwa melihat seseorang menguap akan memicu perubahan neurokognitif, untuk meningkatkan kewaspadaan pengamat sebagai cara untuk mengkompensasi berkurangnya kewaspadaan orang yang menguap.

“Kecenderungan untuk menyesuaikan diri dan terpengaruh oleh menguapnya orang lain, mungkin telah berkembang, karena dampaknya terhadap peningkatan kelangsungan hidup dalam kelompok,” kata para peneliti dari SUNY Polytechnic Institute, Amerika Serikat.

Untuk penelitian ini, mereka menyelidiki apakah melihat orang lain menguap meningkatkan deteksi singa (yang mungkin merupakan ancaman berulang bagi kelangsungan hidup manusia selama sejarah evolusi), dibandingkan dengan impala, sejenis kijang, yang tidak menimbulkan bahaya bagi nenek moyang kita. 

Para peneliti, yang temuannya dipublikasikan dalam jurnal Evolutionary Behavioral Sciences, menguji 27 orang.

Pertama, mereka menunjukkan video orang-orang yang sedang menguap atau dengan ekspresi netral. Kemudian, secara acak, mereka berulang kali menunjukkan gambar singa atau impala dalam matriks gambar pengalih perhatian lainnya, dan meminta mereka menemukan hewan target. “Setelah orang-orang menguap, para partisipan menjadi lebih cepat dalam mendeteksi singa dan lebih lambat dalam mencari impala,” kata para peneliti.

Sebuah studi sebelumnya yang dilakukan oleh universitas yang sama, menemukan bahwa melihat orang menguap meningkatkan kemampuan seseorang untuk mendeteksi ular.

Dengan mereplikasi penelitian pada hewan yang berbeda, tim dapat menunjukkan bahwa efeknya tidak hanya spesifik pada ular, namun juga dalam konteks yang berbeda.

Dr Andrew Gallup yang terlibat dalam kedua penelitian tersebut, mengatakan replikasi ini penting, untuk memastikan bahwa temuan fakta ini adalah tidak palsu atau disebabkan oleh peristiwa kebetulan atau anomali statistik.

“Ketika kami mampu mereplikasi eksperimen sebelumnya, seperti yang kami lakukan di sini, kami memperoleh keyakinan bahwa temuan tersebut mewakili dampak yang sebenarnya,” ujar dia.

Dalam hal ini, mereka juga ingin mereplikasi penelitian sebelumnya, untuk memastikan bahwa efek yang diamati dalam penelitian fakta ini bukan disebabkan oleh jenis stimulus tertentu yang digunakan (misalnya ular).

“Dengan mereplikasi konseptual, kami menemukan bahwa melihat orang lain menguap meningkatkan deteksi ancaman, termasuk kejahatan, dalam konteks yang berbeda,” papar Dr Gallup.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement