Kamis 14 Sep 2023 08:50 WIB

Skripsi tak Wajib, Mahasiswa Bisa Bebas Stres?

Penghapusan skripsi boleh saja asalkan ada proyek lain sebagai penggantinya.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Natalia Endah Hapsari
 Penghapusan skripsi akan berdampak negatif dan positif (ilustrasi)
Foto: yeppopo.wordpress.com
Penghapusan skripsi akan berdampak negatif dan positif (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Beberapa waktu lalu isu penghapusan skripsi begitu ramai. Ada pro kontra dalam menanggapi isu tersebut. Menurut Esti Nugroho, salah satu orang tua dari mahasiswi di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) mengatakan skripsi masih dibutuhkan oleh anak, namun ia meminta untuk tidak memberatkan anak. "Skripsi sebagai tugas akhir mungkin masih perlu, tapi tidak membebani mahasiswa soal dosen pembimbing dan lainnya," ujar Esti kepada Republika.co.id, belum lama ini.

Esti mengatakan sebaiknya dosen pembimbing tidak mempersulit anak didiknya. Juga jangan menjadikan skripsi sebagai ajang untuk balas dendam. "Dosen pembimbing harus membimbing dan kasih solusi, bukan cuma coret-coret tulisan mahasiswa," ujarnya.

Baca Juga

Adanya skripsi, menurut Esti, mungkin saja lahir inovasi-inovasi sesuai bidang studi. Mahasiswa juga bisa belajar berpikir kritis, membiasakan mereka menulis akademik. Jika skripsi dihapuskan, menurutnya, jadi hilang pengalaman untuk menulis jurnal ilmiah.

Sementara itu, praktisi psikolog keluarga, Nuzulia Rahma Tristinarum mengatakan penghapusan skripsi boleh-boleh saja asalkan ada proyek lain sebagai pengganti skripsi yang dilakukan oleh mahasiswa. "Project tersebut sebaiknya adalah project yang lebih aplikatif di dunia kerja," ujar perempuan yang akrab disapa Lia ini kepada Republika.co.id, Kamis (14/9/2023) 

Menurut Lia penghapusan skripsi akan berdampak negatif dan positif. Dampak positif, ungkap Lia, di antaranya mengurangi stres dan kecemasan mahasiswa terkait skripsi yang biasanya berkaitan juga dengan dosen pembimbing, tempat pengambilan data dan lainnya.

Sedangkan dampak negatifnya, mahasiswa tidak lagi memiliki standar nilai yang sama di indonesia. Selain itu, kelulusan dan nilai akan sangat tergantung universitas tempatnya kuliah. Mahasiswa juga tidak terlatih dalam berpikir secara sistematis. Biasanya dalam skripsi, mahasiswa dilatih untuk berpikir terstruktur dan sistematis dan juga harus disertai data-data. Dalam skripsi juga, mahasiswa diajarkan berpikir analisis. "Jika skripsi tidak ada, perlu diganti dengan project lain yang tetap dapat melatih cara berpikir mahasiswa," sarannya.

Selain itu, Lia menambahkan dalam menghadapi dunia kampus, sebaiknya cari kegiatan yang akan menunjang dalam bekerja setelah lulus nanti. Bergabung bersama senior mengerjakan proyek kerja, sehingga cara berpikir pun sudah terlatih ketika nanti dihadapkan pada situasi kerja yang sebenarnya. Pengalaman tersebut juga akan memberi nilai lebih dalam bekerja nantinya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement