Senin 19 Jun 2023 14:27 WIB

Siap-Siap, Kantor Cabang Bank akan Tutup Akibat Teknologi AI

Sebagian besar nasabah bank akan beralih ke mobile apps.

Kecerdasan buatan  (AI) diprediksi bakal menjadi faktor yang mendorong penurunan jumlah kantor cabang perbankan di masa depan. /ilustrasi.
Foto: UNM
Kecerdasan buatan (AI) diprediksi bakal menjadi faktor yang mendorong penurunan jumlah kantor cabang perbankan di masa depan. /ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kecerdasan buatan  (AI) diprediksi bakal menjadi faktor yang mendorong penurunan jumlah kantor cabang perbankan pada masa depan. "Ada sekitar 60 persen sampai 70 persen orang itu sudah tidak pernah ke cabang dan beralih ke mobile apps, makanya ada tren penurunan cabang. Terlebih, dengan penemuan AI yang bisa menggantikan customer service," kata pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda dalam gelar wicara Visa "Memasuki Era Virtual Banking di Indonesia" yang dipantau secara virtual di Jakarta, Senin.

Huda menjelaskan, penggunaan teknologi kecerdasan buatan dan fitur-fitur daring lainnya pada sistem perbankan dapat memberikan efisiensi terkait akses layanan keuangan, terutama untuk nasabah. Efisiensi tersebut yang mendorong minat masyarakat untuk beralih ke layanan perbankan digital.

Baca Juga

Di sisi lain, Huda melihat faktor pendukung transisi penggunaan layanan bank digital lainnya adalah banyaknya generasi milenial dan gen Z yang adaptif terhadap teknologi serta pertumbuhan kelas menengah yang makin tinggi. "Itu mendorong online banking kita makin digemari," ujar Huda.

Kendati demikian, dia mengatakan, masih ada tantangan terkait implementasi layanan perbankan digital di Tanah Air. Contohnya, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia yang jauh berada di bawah tingkat inklusi keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan masyarakat berada di level 49,68 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 85,10 persen.

Huda menjelaskan, gap tersebut menunjukkan banyak masyarakat yang menggunakan layanan keuangan namun belum benar-benar memahami fungsi layanan yang bisa mereka manfaatkan. "Itu cukup berbahaya. Harus diingatkan agar masyarakat tidak terjebak," kata Huda.

Huda mendorong adanya kolaborasi dari berbagai pihak, baik dari sisi pemerintah maupun swasta, untuk terus memberikan pemahaman terkait layanan perbankan digital kepada masyarakat.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement