Selasa 11 Apr 2023 09:40 WIB

Benarkah Robot Pelayan Menguasai Restoran Masa Depan?

Robot pelayan meringankan beban kerja manusia dan membuat layanan efektif.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Natalia Endah Hapsari
Perkembangan teknologi robot dalam beberapa dekade terakhir alami kemajuan pesat termasuk penggunaan robot di restoran/ilustrasi.
Foto: VOA
Perkembangan teknologi robot dalam beberapa dekade terakhir alami kemajuan pesat termasuk penggunaan robot di restoran/ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MADISON HEIGHTS — Anda mungkin pernah melihat mesin setinggi pinggang yang dapat menyambut tamu, mengarahkan ke meja, mengantarkan makanan dan minuman, serta mengangkut piring kotor ke dapur di sebuah restoran. Beberapa memiliki wajah seperti kucing, bahkan mendengkur saat Anda menggaruk kepalanya.

Namun, apakah pelayan robot adalah masa depan? Ini adalah pertanyaan yang coba dijawab oleh industri restoran. Banyak yang mengira robot pelayan adalah solusi kekurangan tenaga kerja industri. Apalagi penjualan robot pelayan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga

“Tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa inilah tujuan dunia,” kata dekan Hilton College of Global Hospitality Leadership di University of Houston, Dennis Reynolds dilansir Japan Today, Selasa (11/4/2023).

Reynolds mengatakan robot pelayan meringankan beban kerja staf manusia dan membuat layanan menjadi lebih efisien. Namun, yang lainnya menilai pelayan robot tidak dapat menggantikan manusia. Robot pelayan tidak dapat beradaptasi dengan apa yang manusia lakukan, seperti menerima pesanan, banyak restoran memiliki tangga, teras luar ruangan, dan tantangan fisik lainnya.

“Restoran adalah tempat yang sangat kacau, jadi sangat sulit untuk memasukkan otomatisasi dengan cara yang benar-benar produktif,” ujar wakil presiden perusahaan konsultan Forrester yang mempelajari otomasi, Craig Le Clair.

Namun, robot terus berkembang biak. Bear Robotics yang berbasis di Redwood City, California memperkenalkan robot Servi-nya pada 2021. Bear Robotics diperkirakan akan memiliki 10 ribu yang dikerahkan pada akhir tahun ini di 44 negara bagian AS dan luar negeri. Shenzen, Pudu Robotics yang berbasis di Cina, telah mengerahkan lebih dari 56 ribu robot ke seluruh dunia.

“Setiap rantai restoran mencari otomatisasi sebanyak mungkin,” kata pembuat server robot yang berbasis di Austin dari Richtech Robotics, Phil Zheng.

Li Zhai kesulitan menemukan staf untuk Noodle Topia, restorannya di Madison Heights, Michigan pada musim panas 2021. Dia membeli BellaBot dari Pudu Robotics. Robot itu sangat sukses sehingga dia menambahkan dua lagi. Satu robot memimpin pengunjung ke tempat duduk, sementara yang lain mengantarkan semangkuk mi kukus ke meja. Karyawan menumpuk piring kotor ke robot ketiga untuk kembali ke dapur.

Zhai hanya membutuhkan tiga orang untuk melakukan volume bisnis yang sama dengan yang biasa ditangani oleh lima atau enam orang. Zhai menilai pelayan robot bisa lebih hemat bagi bisnis. Sebuah robot berharga sekitar 15 ribu dolar AS (sekitar Rp 224 juta), sementara pekerja manusia memiliki gaji 5.000 dolar AS hingga 6.000 dolar AS (sekitar Rp 74 juta hingga Rp 89 juta) per bulan.

Di AS, National Restaurant Association mendata industri restoran mempekerjakan 15 juta orang pada akhir tahun lalu, tetapi itu masih lebih sedikit 400 ribu dari sebelum pandemi. Dalam survei baru-baru ini, 62 persen operator restoran mengatakan kepada asosiasi bahwa mereka tidak memiliki cukup karyawan untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Direktur bisnis perhotelan di Broad College of Business Michigan State University, Karthik Namasivayam mencatat bahwa penerimaan publik terhadap server robot sudah tinggi di Asia. Pizza Hut memiliki server robot di 1.000 restoran di Cina. AS lebih lambat mengadopsi robot, tetapi beberapa rantai makanan sedang mengujinya. Chick-fil-A sedang mencobanya di beberapa lokasi AS. Jaringan restoran yang khusus menyajikan roti lapis daging ayam itu mengatakan robot memberi lebih banyak waktu kepada karyawan manusia untuk menyegarkan minuman, membersihkan meja, dan menyapa tamu.

Chili memperkenalkan pelayan robot bernama Rita pada 2020 ke 61 restoran AS, sebelum menghentikannya secara tiba-tiba pada Agustus lalu. Jaringan restoran menemukan bahwa Rita bergerak terlalu lambat dan menghalangi manusia. 58 persen tamu yang disurvei mengatakan bahwa Rita tidak meningkatkan pengalaman mereka secara keseluruhan.

Rantai hot pot di Cina, Haidilao mulai menggunakan robot setahun yang lalu untuk mengantarkan makanan ke meja pengunjung. Namun, manajer di beberapa outlet mengatakan robot belum terbukti dapat diandalkan atau hemat biaya, seperti server manusia. Manajer outlet Beijing, Wang Long mengatakan kedua robotnya telah rusak.

Saru Jayaraman, yang mengadvokasi upah lebih tinggi untuk pekerja restoran sebagai presiden One Fair Wage, mengatakan restoran dapat dengan mudah mengatasi kekurangan tenaga kerja jika mereka membayar pekerja lebih tinggi. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement