Senin 20 Mar 2023 16:13 WIB

Ini Jurus Meta Tumpas Penipuan Daring

Tujuannya adalah menghentikan penyerang sebelum mencapai target.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Natalia Endah Hapsari
Peretas kerap melakukan cara-cara penipuan secara daring yang tak terduga/ilustrasi,
Foto: Pixabay
Peretas kerap melakukan cara-cara penipuan secara daring yang tak terduga/ilustrasi,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meta tengah mencari cara jitu guna mengungkap dan memerangi aksi penipuan dan kampanye daring. Sebuah kerangka kerja telah dirilis untuk membasmi beragam kejahatan siber, mulai dari kebohongan Pemilu hingga perekrutan teroris.

Sebuah paparan telah ditulis oleh Ben Nimmo dan Eric Hutchins dari Meta memerinci cara untuk membuat "rantai pembunuh". Target utamanya adalah menyasar operasi penipuan secara daring yang ditujukan untuk membodohi warganet pengguna media sosial.

Baca Juga

"Kebodohan manusia adalah salah satu kekuatan besar di alam semesta, tetapi rantai pembunuhan ini mencoba mengidentifikasi semua jenis operasi berbeda yang dapat menargetkan kelemahan manusia," kata Nimmo, dikutip dari laman Japan Today, Senin (20/3/2023).

Tujuannya yakni menghentikan penyerang sebelum mencapai target. Terlebih, komunitas peretas telah melakukan cara-cara penipuan tak terduga, seperti pengguna komputer yang ditipu untuk mengeklik tautan jebakan atau berbagi informasi pribadi saat masuk di situs web palsu.

Kemajuan dalam kecerdasan buatan generatif yang dapat menghasilkan foto profil, suara, dan balasan tertulis "buatan" yang amat meyakinkan juga dimanfaatkan peretas, penjahat siber, dan penipu. Mereka jadi punya lebih banyak "senjata" untuk menipu orang secara daring.

Namun, Nimmo yakin ada cara untuk mengidentifikasi tipuan seperti itu. pelaku ancaman telah mempelajari trik baru, begitu pula tim pertahanan dunia maya. Hal itulah yang digagas Meta dalam kerangka kerja bertajuk "The Online Operations Kill Chain".

Paparan itu mengusulkan pendekatan yang lebih terpadu untuk menganalisis keseluruhan kampanye jahat, termasuk spionase, perdagangan manusia, penipuan, dan campur tangan pemilu. "Meskipun banyak perbedaannya, operasi daring masih memiliki kesamaan," ujar Nimmo.

Aksi penipuan daring secara rutin menjangkau aneka platform, ternasuk Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, bahkan LinkedIn. Laporan dari Meta mengungkap fitur untuk mengidentifikasi gambar profil maupun alamat web yang ada asli atau palsu.

Meta yakin jika dapat memetakan langkah-langkah yang dilalui operasi penipuan daring, akan timbul pemahaman untuk mencegah dan menangkalnya. Kerangka kerja itu hadir dengan bahasa sehari-hari, sehingga orang-orang dapat berbagi dan berkolaborasi untuk mencegah penipuan dan kejahatan siber.

"Kerangka itu sendiri bukanlah peluru ajaib. Kolaborasi, tindakan, dan pola pikir yang kami gunakan itulah yang pada akhirnya akan membuat ini berhasil," ungkap Hutchins.

Meta telah banyak berinvestasi dalam tim dan teknologi moderasi konten yang secara rutin menggagalkan operasi pengaruh rahasia di seluruh dunia. Raksasa teknologi itu juga terus didorong untuk berbuat lebih banyak untuk memerangi terpaan informasi salah, terutama kampanye untuk memengaruhi hasil pemilu.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement