Ahad 27 Nov 2022 01:03 WIB

Perusahaan Antariksa India Tempatkan Satelit di Orbit pada 2023

Skyroot mengaku telah berhubungan dengan lebih dari 400 pelanggan potensial.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha
Roket SpaceX Falcon 9 lepas landas dari Stasiun Angkatan Luar Angkasa Cape Canaveral Selasa, 22 November 2022, di Florida. Perusahaan rintisan swasta Skyroot Aerospace berencana melakukan peluncuran ruang angkasa pertama di India untuk menempatkan satelit ke orbit pada 2023.
Foto: Craig Bailey/Florida Today via AP
Roket SpaceX Falcon 9 lepas landas dari Stasiun Angkatan Luar Angkasa Cape Canaveral Selasa, 22 November 2022, di Florida. Perusahaan rintisan swasta Skyroot Aerospace berencana melakukan peluncuran ruang angkasa pertama di India untuk menempatkan satelit ke orbit pada 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, BENGALURU -- Perusahaan rintisan swasta Skyroot Aerospace berencana melakukan peluncuran ruang angkasa pertama di India untuk menempatkan satelit ke orbit pada 2023. Skyroot mengaku telah berhubungan dengan lebih dari 400 pelanggan potensial.

Dorongan pemerintah Perdana Menteri Indaia Narendra Modi untuk meningkatkan pangsa India di pasar peluncuran luar angkasa global dari hanya satu persen telah memberikan kepercayaan investor. Dukungan ini memberikan dampak kepada Skyroot dan perusahaan rintisan lainnya dalam mendapat dukungan.

Baca Juga

"Tiga atau empat bulan yang lalu ketika kami berbicara dengan investor, salah satu pertanyaan terbesar yang mereka ajukan adalah apakah pemerintah mendukung kami," kata salah satu pendiri Skyroot Bharath Daka.

Salah satu pendiri Skyroot Pawan Chandana mengharapkan lonjakan permintaan untuk layanan peluncuran di perusahaan itu jika terbukti dengan peluncuran yang ditetapkan untuk depan berhasil. “Sebagian besar pelanggan ini telah membangun konstelasi dan akan meluncurkannya dalam lima tahun ke depan,” katanya.

Perusahaan yang berbasis di Hyderabad ini didukung oleh dana kekayaan negara Singapura GIC. Chandana mengatakan, 68 juta dolar AS yang telah dikumpulkan akan mendanai dua peluncuran berikutnya.

Ribuan peluncuran satelit kecil direncanakan di tahun-tahun mendatang karena perusahaan membangun jaringan untuk memberikan layanan broadband seperti Starlink SpaceX. Peluncuran perusahaan ini pun dapat mendukung aplikasi seperti melacak rantai pasokan atau memantau rig minyak lepas pantai.

Skyroot menghadapi saingan peluncuran roket yang sudah mapan dan yang akan datang dengan janji menurunkan biaya. Salah satu pesaingnya adalah startup China Galactic Energy yang menempatkan lima satelit ke orbit minggu lalu dalam peluncuran keempatnya yang berhasil.

Sedangkan Space One dari Jepang didukung oleh Canon Electronics dan IHI Corp. Perusahaan ini berencana meluncurkan 20 roket kecil per tahun pada pertengahan dekade ini.

Tapi Skyroot yang baru meluncurkan roket uji pekan lalu ini mengharapkan dapat memangkas biaya peluncuran sebesar 50 persen dibandingkan dengan harga saat ini. Upaya ini cara mengatasi pesaing mapan seperti Virgin Orbit milik Richard Branson dan Rocket Lab USA Inc yang berbasis di California.

India membuka pintu bagi perusahaan ruang angkasa swasta pada 2020 dengan perombakan peraturan dan badan baru untuk mendorong peluncuran sektor swasta. Sebelumnya, perusahaan hanya dapat bertindak sebagai kontraktor untuk Indian Space Research Organization (ISRO). ISRO merupakan sebuah badan antariksa pemerintah dengan reputasinya sendiri dalam bidang teknik yang lebih murah. Misi India di Mars pada 2014 hanya menelan biaya 74 juta dolar AS, kurang dari anggaran film luar angkasa Hollywood Gravity//.

Menurut Chandana, membangun rekor efisiensi biaya akan menjadi kuncinya. Skyroot yang didirikan pada 2018 ketika Chandana dan Daka berhenti bekerja di ISRO. Perusahan ini telah menetapkan target untuk mengembangkan roket dengan biaya seperlima dari biaya industri saat ini.

Roket Skyroot yang mencapai ketinggian 89,5 kilometer dalam peluncuran uji coba minggu lalu menggunakan komponen serat karbon dan komponen cetakan 3D, termasuk pendorongnya. Itu meningkatkan efisiensi sebesar 30 persen, memangkas bobot dan biaya pengadaan. Namun, tindakan itu membuat insinyur Skryoot harus menulis kode mesin untuk vendor yang membuat roket karena hanya sedikit yang berpengalaman bekerja dengan serat karbon.

Dengan pencetakan 3D, Skyroot percaya dapat membuat roket baru hanya dalam dua hari karena bekerja menuju roket yang dapat digunakan kembali, sebuah teknologi yang dipelopori oleh SpaceX. Chandana dan Daka percaya bahwa biaya peluncuran per kilogram untuk sebuah satelit dapat diturunkan menjadi hampir 10 dolar dari ribuan dolar saat ini.

Taget itu dapat menjungkirbalikkan ekonomi perdagangan luar angkasa termasuk idola mereka, Elon Musk. "SpaceX adalah simbol inovasi hebat dan validasi pasar yang hebat," kata Chandana, yang menambahkan bahwa mereka belum sempat berbicara dengan Musk.

"Saat ini, kami pikir dia mungkin sibuk menjalankan Twitter," ujarnya. 

 

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement