Ahad 18 Sep 2022 14:57 WIB

Twitter Digugat Belanda Atas Penyebaran Rumor Pedofilia

Twitter dibawa ke pengadilan karena penyebaran teori konspirasi soal pedofil.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani
Sebuah kota di Belanda membawa Twitter ke pengadilan karena penyebaran teori konspirasi yang mengklaim soal pedofil.
Foto: AP Photo/Gregory Bull
Sebuah kota di Belanda membawa Twitter ke pengadilan karena penyebaran teori konspirasi yang mengklaim soal pedofil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebuah kota di Belanda membawa Twitter ke pengadilan karena penyebaran teori konspirasi yang mengeklaim soal pedofil. Laporan palsu berisi Bodegraven-Reeuwijk adalah situs pelecehan dan pembunuhan banyak anak pada tahun 1980-an dan pertama kali diedarkan oleh tiga pria pada 2020.

Penghasut utama, yang tumbuh di kota dekat Den Haag, mengatakan dia telah menyaksikan kejahatan itu sebagai seorang anak. Pihak berwenang setempat ingin melihat semua postingan yang berkaitan dengan dugaan peristiwa tersebut dihapus.

Klaim tersebut telah mendorong banyak orang melakukan perjalanan ke pemakaman kota Vrederust untuk menaruh bunga di kuburan anak-anak yang tampaknya mati secara acak. Pengacara Twitter, Jens van den Brink, menolak berkomentar menjelang sidang di Pengadilan Distrik Den Haag pada Jumat.

Dilansir BBC, Ahad (18/9/2022), tahun lalu, pengadilan yang sama memerintahkan tiga pria asli untuk menghapus semua tweet tentang kota tersebut, tetapi klaim terus beredar. Pengacara kota, Cees van de Sanden, mengatakan Twitter belum menanggapi permintaan pada bulan Juli untuk menemukan dan menghapus semua postingan yang terkait dengan klaim tersebut.

Sementara itu, Wali Kota Christiaan van der Kamp mengatakan klaim itu sangat menyakitkan dan terkadang mengancam kerabat almarhum. Tiga orang di balik klaim tersebut saat ini sedang menjalani hukuman penjara menyusul vonis dalam kasus terpisah untuk penghasutan dan membuat ancaman pembunuhan terhadap sejumlah orang, termasuk Perdana Menteri Belanda Mark Rutte.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement