Sabtu 09 Jul 2022 23:03 WIB

Ilmuwan Pecahkan Misteri Tertua Bumi, Apa Itu?

Ilmuwan mungkin telah berhasil menemukan teori tepat bagaimana bumi terbentuk.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih
Ilustrasi Bumi
Foto: pixabay
Ilustrasi Bumi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Para ilmuwan mengungkapkan teori baru yang menjawab misteri tertua bumi, yaitu cara bumi terbentuk. Selain menjelaskan proses pembentukan, teori itu juga menjelaskan komposisi kimia khas bumi yang bisa membantu menceritakan kisah planet lain.

“Teori yang berlaku dalam astrofisika dan kosmokimia adalah bumi terbentuk dari asteroid kondrit. Ini adalah balok batu dan logam yang relatif kecil dan sederhana yang terbentuk sejak awal di tata surya,” kata profesor planetologi eksperimental di ETH Zurich, Paolo Sossi.

Baca Juga

Sossi mengatakan permasalahan dari teori tersebut adalah tidak ada campuran kondrit yang dapat menjelaskan komposisi yang tepat dari bumi. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah mencari jawaban untuk menjelaskan itu. Mereka menunjukkan tabrakan bahan mentah yang membentuk bumi menghasilkan sejumlah besar panas dan menguapkan unsur-unsur yang lebih ringan.

Namun, komposisi isotop bumi tampaknya menunjukkan hal yang berbeda. “Isotop suatu unsur kimia semuanya memiliki jumlah proton yang sama meskipun jumlah neutron yang berbeda. Isotop dengan neutron yang sedikit lebih ringan harus dapat melarikan diri dengan lebih mudah,” ujarnya.

Sossi melanjutkan jika teori penguapan dengan pemanasan benar, akan ditemukan lebih sedikit isotop cahaya di bumi daripada di kondrit asli. “Tapi justru itulah yang tidak ditunjukkan dari pengukuran isotop,” ucap dia.

Para peneliti mulai mencari jawaban yang lebih baik. Diperkirakan planet-planet di Tata Surya terbentuk dari waktu ke waktu dengan butiran yang lebih kecil tumbuh menjadi planetesimal. Planetesimal adalah benda kecil gas dan debu yang terkumpul yang mengumpulkan materi melalui tarikan gravitasinya.

Dilansir Independent, Sabtu (9/7/2022), tidak seperti kondrit, planetesimal telah dipanaskan cukup untuk membuat pemisahan antara inti logam dan mantel berbatu. Selain itu, planetesimal yang terbentuk di berbagai area di sekitar Matahari atau pada waktu yang berbeda, dapat memiliki komposisi kimia yang sangat berbeda.

Tim menjalankan simulasi ribuan planetesimal yang bertabrakan untuk melihat apakah mereka dapat menghasilkan benda yang mirip dengan Merkurius, Venus, bumi, dan Mars. Simulasi menunjukkan campuran dari banyak planetesimal yang berbeda dapat membentuk bumi, tetapi sebuah planet dengan komposisi bumi adalah hasil yang paling mungkin secara statistik.

“Meskipun kami telah mencurigainya, kami masih menemukan hasil yang sangat luar biasa. Kami sekarang tidak hanya memiliki mekanisme yang lebih baik menjelaskan pembentukan Bumi, tetapi kami juga memiliki referensi untuk menjelaskan pembentukan planet berbatu lainnya," tambahnya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement