Ahad 27 Mar 2022 09:04 WIB

Laboratorium Penghancur Atom CERN Batasi Kerja Sama dengan Lembaga Rusia 

Semua partisipasi Rusia dan Belarusia dalam komite ilmiah akan ditangguhkan.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani / Red: Dwi Murdaningsih
Salah satu alat di lab CERN.
Foto: CERN
Salah satu alat di lab CERN.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Laboratorium sains Eropa yang menampung penghancur atom terbesar di dunia (CERN) mengambil langkah baru. CERN akan membatasi kerja sama mereka dengan lembaga penelitian Rusia setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Dilansir dari Japan Today, Ahad (27/3/2022), Dewan CERN, badan pengelola laboratorium yang berbasis di Jenewa dengan 23 negara anggota, mengumumkan pada Jumat (25/3/2022) bahwa para ilmuwannya akan menangguhkan partisipasi di semua komite ilmiah di Rusia dan negara tetangga Belarusia.

Baca Juga

CERN telah bergulat dengan tanggapannya terhadap invasi karena hampir tujuh persen dari 18.000 penelitinya dari seluruh dunia terkait dengan institusi Rusia. Pada 8 Maret 2022 CERN mencabut status pengamat Rusia di organisasi tersebut.

Masalah apakah akan memberikan sanksi lebih lanjut kepada Rusia menjadi mendesak karena Large Hadron Collider, akselerator partikel terbesar dan paling kuat di dunia, akan memulai operasi ketiga kalinya bulan depan.

Mesin tersebut mendorong partikel melalui cincin magnet superkonduktor sepanjang 277 kilometer.  Ilmuwan Rusia telah terlibat dalam perencanaan beberapa eksperimen.

Di bawah langkah-langkah baru yang disetujui Jumat (25/3/2022), CERN akan menangguhkan semua acara bersama dengan institut Rusia dan berhenti mempertimbangkan kandidat baru dari Rusia dan Belarusia untuk bergabung dengan staf organisasi.

Dewan juga mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan semua kerja sama dengan Institut Gabungan untuk Riset Nuklir, sebuah kelompok internasional dari 19 negara anggota yang berbasis di Dubna, Rusia. Lebih dari setengah anggotanya adalah bekas republik Soviet, termasuk Ukraina, tetapi mereka juga termasuk Kuba, Republik Ceska, Polandia, Korea Utara, dan Vietnam.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement