Jumat 27 Mar 2020 13:03 WIB

Peneliti Jepang Kembangkan Plastik yang Bisa Terurai

Plastik menggunakan bahan pati dan selulosa yang kuat tetapi bisa terurai.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah
Tim peneliti asal Jepang tengah mengembangkan plastik yang bisa terurai saat terkena air laut (Foto: ilustrasi sampah plastik)
Foto: Pxfuel
Tim peneliti asal Jepang tengah mengembangkan plastik yang bisa terurai saat terkena air laut (Foto: ilustrasi sampah plastik)

REPUBLIKA.CO.ID, OSAKA -- Tim peneliti asal Jepang tengah mengembangkan plastik yang bisa terurai saat terkena air laut. Jenis plastik baru tersebut berbahan pati dan selulosa yang kuat serta tahan air, namun akan terurai di lautan seiring waktu.

Para penggagas studi adalah Raghav Soni, Taka-Aki Asoh, dan Hiroshi Uyama dari Universitas Osaka. Gagasan mereka mengenai plastik biodegradable berbiaya rendah telah dituangkan dalam tulisan yang terbit di jurnal Carbohydrate Polymers.

Baca Juga

Selama ini, ilmuwan sudah menemukan plastik biodegradable yang dapat terurai menjadi bahan kimia tidak berbahaya berukuran kecil. Akan tetapi, plastik itu tidak sama kuat dan tahan air seperti plastik komersial polietilen yang lazim digunakan.

Harganya juga dua kali lipat dari plastik berbasis minyak bumi, dan hanya bisa diproduksi dalam jumlah kecil. Para peneliti di Universitas Osaka menawarkan ide membuat plastik transparan baru dari polimer biologis alami yang murah.

Pati ditemukan dalam jagung dan kentang, sedangkan selulosa adalah komponen utama dinding tanaman. Membran plastik yang terbuat dari pati diperkuat oleh serat selulosa mikroskopis. Kuat dan tahan air, namun akan terurai di lautan.

"Karena bahan-bahan ini murah dan proses pembuatannya sederhana, kita dapat berharap bahwa bahan yang dikembangkan akan segera digunakan secara praktis," kata salah satu peneliti, Taka-Aki Asoh, yang merupakan profesor di bidang kimia terapan.

Tim peneliti optimistis materi yang mereka tawarkan mampu menjadi solusi dari masalah global yang terus bertambah. Jutaan ton plastik mencemari laut setiap tahun. Limbah tersebut terakumulasi di lima samudera seantero Bumi.

Salah satu timbunan plastik itu bahkan sebesar lima kali luas Prancis. Sampah plastik merusak ekosistem, membahayakan biota laut, dan tanpa disadari memasuki rantai makanan manusia, dikutip dari laman Anthropocene Magazine, Jumat (27/3).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement