Jumat 31 Jan 2020 17:21 WIB

Mesir akan Ambil 5 Artefak Berharga yang Disimpan di Eropa

Beberapa peninggalan berharga milik Mesir disimpan di museum luar negeri.

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih
 Benda artefak Mesir kuno yang dikembalikan ke negara asalnya.
Foto: abc news
Benda artefak Mesir kuno yang dikembalikan ke negara asalnya.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO — Salah satu arkeolog terkemuka Mesir, Zahi Hawass meluncurkan kampanye untuk mengembalikan harta karun kuno dari negara itu. Beberapa Artefak Berharga selama ini berada di museum-museum luar negeri dan kebanyakan di Eropa. 

Ia sedang menyusun sebuah komite Egyptian intellectuals and foreigners untuk menekan sejumlah museum di London, Louvre di Paris, dua museum di Jerman dan satu di Boston untuk mengembalikan lima artefak penting. 

Baca Juga

“Benda-benda itu unik dan tidak seharusnya berada di luar, ketika meninggalkan negara secara ilegal. Orang-orang Eropa yang menggunakan ini mengatakan bahwa negara-negara Afrika tidak cukup mampu untuk melestarikan warisan mereka,” ujar Hawass dilansir Jpost, Jumat (31/1). 

Mantan menteri purbakala Mesir ini juga mengungkapkan bahwa saat ini Mesir sedang menyelesaikan proyek museum arekologi terbaik dan terbesar di dunia. Museum yang akan bernama Grand Egyptian Museum (GEM) akan menjadi tempat di mana artefak-artefak tersebut akan ditampilkan dengan cara yang indah untuk pertama kalinya. 

Gagasan untuk mengembalikan barang-barang bersejarah itu ke Mesir pertama kali muncul pada 2005, selama tahap konstruksi awal dari Museum Mesir Kuno, yang dijadwalkan dibuka pada akhir tahun ini. Museum itu akan menampilkan koleksi arkeologis yang luas dari sekitar 50 ribu artefak, di samping pameran koleksi dari makam Raja Tutankhamun.

Kampanye Hawass akan memfokuskan upaya pada lima artefak yang sangat berharga, yaitu Rosetta Stone (batu Rosetta) di British Museum. Selain itu, patung Nefertiti (1345 SM) yang terkenal terletak di Museum Neues Berlin, Jerman patung zodiak Dendera (sekitar 50 SM) di Museum Louvre, Prancis.

Ada pula patung Hemiunu (Old Kingdom) di Museum Roemer dan Pelizaeus di Hildesheim, Jerman, serta patung Pangeran Ankhhaf (sekitar 2520-2494 SM) yang terletak di Museum Seni Rupa di Boston, Amerika Serikat (AS). Dari seluruh benda bersejarah ini, hanya lima yang diketahui diambil secara legal dari Mesir. 

"Satu-satunya museum yang setuju untuk mengirim artefak dengan status pinjaman adalah museum Hildesheim. Empat museum lainnya menolak dan memberikan alasan yang sangat aneh sebagai pembenaran,” kata Hawass. 

Hawass mengatakan bahwa satu museum menolak permintaan pinjamannya karena khawatir kehadiran artefak di Mesir dapat memicu protes di Tahrir Square dan menuntut agar museum itu tetap berada di Mesir secara permanen. Patung Nefertiti, salah satu benda berharga yang akan diupayakan untuk dipulangkan. Benda bersejarah ini digali oleh tim arkeologi Jerman pada 1912 dan telah dipajang di beberapa museum Jerman selama bertahun-tahun. 

Kepala tim peneliti Jerman saat itu, Ludwig Borchardt disebut membawa patung tersebut ke negara asalnya dan menyembunyikan hingga 10 tahun. Namun, setelah itu patung Nefertiti mulai dipamerkan di depan publik.

Mesir saat itu telah meminta pengembalian patung Nefertiti, yang kemudian ditolak. Selama 1930-an, Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler mengatakan bahwa sebuah museum untuk menyimpan benda tersebut akan dibangun di Ibu Kota Berlin.

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement