Ahad 06 Oct 2019 11:51 WIB

Menkominfo Ajak Warganet Tangkal Konten Negatif Internet

Informasi di era digital ini sangat cepat dan sulit dibendung.

Berita palsu atau hoaks.
Foto: Pixabay
Berita palsu atau hoaks.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantaramendorong warganet menangkal konten-konten negatif di media sosial. "Saat ini rentan penyebaran konten negatif melalui internet berupa hoaks, cyber bullying, dan radikalisme daring. Untuk itulah Siberkreasi muncul sebagai gerakan nasional untuk menanggulangi hal-hal tersebut dengan melakukan literasi digital," katanya saat pembukaan "Siberkreasi Netizen Fair 2019" seperti dikutip dalam siaran pers, Sabtu (5/10).

Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi merupakan gerakan sinergis yang mendorong pengguna internet di Indonesia dalam menggunakan internet secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Gerakan ini merupakan inisiatif multistakeholders yang terdiri dari kementerian, akademisi, komunitas, media dan juga swasta.

Baca Juga

Selain itu, Siberkreasi ini memberikan pemahaman baru tentang literasi digital yang dirasa masih kurang dimengerti masyarakat. "Literasi digital sangat penting, karena tingkat pengetahuan masyarakat masih belum baik. Pasalnya, era digital ini sangat cepat dan sulit dibendung informasinya," ujarnya.

Rudiantara mengatakan, hidup di era digital memudahkan masyarakat untuk mendapatkan, berbagi, hingga mengolah berbagai informasi. "Meskipun memudahkan kita dalam berinteraksi satu sama lain akibat mudahnya arus informasi di era digital, membuat banyak pihak harus menghadapi berbagai tantangan yang muncul di era ini," ujarnya.

Ia juga mendorong warganet Indonesia aktif berpartisipasi dalam menyebarkan konten positif secara konsisten di dunia maya. "Sehingga dengan memanfaatkan perkembangan teknologi ini kita bisa berkembang dan produktif di dunia digital," kata Rudiantara.

Ia pun mendukung langkah Siberkreasi menyebarkan literasi digital sekaligus menjadi suatu kegiatan positif yang membuat masyarakat menjadi lebih tahu dan mengerti dalam menggunakan internet secara bertanggung jawab.

"Berbagai macam informasi bisa kita dapatkan di media sosial, baik yang positif maupun yang negatif. Untuk itu dibutuhkan literasi digital agar masyarakat luas mampu memilih dan memilah konten serta memerangi info hoaks, ujaran kebencian, dan berita negatif lainnya," katanya.

Staf Khusus Presiden bidang komunikasi Adita Irawati mengatakan, diperlukan warganet yang pintar yang bisa menyebarkan informasi yang berdasarkan fakta yang akurat dan terverifikasi. "Netizen pintar adalah individu yang mampu menyaring sebaran informasi dan melakukan cek-ricek untuk informasi yang ada sebelum dibagikan. Atau tidak perlu sama sekali dibagikan," ujar Adita.

Sebagai staf khusus Presiden bidang komunikasi, ia membuat konten informatif melalui konsep dan visualisasi yang optimal sehingga menjangkau target yang hendak dituju. "Kami berupaya memilah mana konten yang layak untuk disebarkan dan mana yang tidak secara selektif. Tujuannya menghindari miskomunikasi dan segala yang bisa digeneralisir ke arah negatif," ucapnya.

Siberkreasi Netizen Fair 2019 kali ini mengangkat tema Creator Generation, mengajak anak bangsa khususnya generasi muda lebih bebas menuangkan dalam berekspresi serta mendorong anak muda agar mampu memanfaatkan teknologi dengan memproduksi konten positif yang bisa berguna bagi banyak orang.

Setelah dua tahun sejak diluncurkan pada 27-29 Oktober 2017 di Jakarta, Siberkreasi telah berhasil mewadahi 103 lembaga/komunitas dari berbagai unsur, menjangkau 442 lokasi dengan lebih dari 200.000 peserta aktif dan bersinergi dengan lebih dari 12 ribu relawan lokal seperti Relawan TIK Indonesia dan Pandu Digital.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement