Sabtu 20 Jul 2019 15:53 WIB

Pakar Sebut FB, IG, dan Google Lebih Bahaya dari FaceApp

Pakar keamanan siber menilai Facebook dan Instagram jauh lebih bahayakan privasi

Aplikasi FaceApp
Foto: dok FaceApp
Aplikasi FaceApp

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pakar keamanan siber Pratama Persadha menilai Facebook, Instagram, dan Google jauh lebih berbahaya bagi privasi warganet daripada FaceApp. Contoh yang sudah terjadi adalah kasus Cambridge Analytica yang sempat ramai.

"Namun untuk meminimalisasi potensi bahayanya, sebaiknya orang-orang penting tidak menggunakan aplikasi ini," katanya kepada Antara di Semarang, Sabtu (20/7).

Baca Juga

Ia menyebut di beberapa negara ada imbauan khusus kepada para pejabat atau anggota militer untuk tidak menggunakan media sosial dan aplikasi serupa. Bahkan, banyak instansi pemerintah terkait dengan pertahanan yang smartphonenya tidak dilengkapi kamera sama sekali.

"Hikmahnya adalah masyarakat jadi mulai mengikuti isu keamanan data pribadi. Bahwa sebenarnya memakai smartphone juga berarti mengekspos privasi kita," kata pria yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (Communication and Information System Security Research Center/CISSReC) ini.

Wajah tua di yang diedit di FaceApp terlihat sangat autentik dan mirip dengan wajah asli. Namun, di tengah hiruk pikuk penggunaan FaceApp, merebak isu terkait dengan keamanan privasi pengguna. FaceApp ternyata bisa saja menyebarkan, menyimpan, bahkan menjual foto pengguna untuk tujuan komersial meski foto tersebut telah dihapus.

Tidak hanya itu, menurut para politikus Partai Demokrat di AS, FaceApp akan digunakan sebagai alat untuk mengganggu pemilu presiden di AS pada 2020. Menurut Pratama Persadha, ada beberapa klausul tentang kepemilikan foto yang dikaitkan dengan keamanan privasi penggunanya.

"Secara umum sebenarnya apa yang dituangkan di dalam ketentuan FaceApp adalah hal yang biasa dan banyak dilakukan aplikasi lainnya. Misalnya, permintaan untuk mengakses kamera ataupun kontak penggunanya," jelasnya.

Untuk itu, pengguna harus berhati-hati dan membaca ketentuan-ketentuan yang ada secara menyeluruh sebelum menggunakan aplikasi. Tidak hanya FaceApp, tetapi juga layanan aplikasi lainnya yang akan digunakan. Namun, bagian ketentuan tersebut biasanya diabaikan pengguna dan cenderung buru-buru untuk menyetujuinya.

Dalam konteks ini, FaceApp adalah aplikasi gratis yang tentunya membutuhkan pemasukan. Salah satunya mungkin dengan menjual foto pengguna untuk tujuan komersial. FaceApp juga sudah memberikan klarifikasi foto yang diunggah ke server mereka berguna untuk proses editing.

"Jadi memang editing-nya berada di cloud, bukan di smartphone. Itu sebabnya FaceApp harus digunakan dengan koneksi internet. FaceApp hanya mengirimkan foto yang akan diedit ke server mereka," kata pria kelahiran Cepu ini.

Pratama menyebut peneliti siber asal Prancis Baptiste Robert telah mengecek keamanan larinya foto-foto yang diunggah ke FaceApp. Semua foto dikirim ke server FaceApp. Server tersebut bukan di Rusia, melainkan di data center milik Amazon. Hal ini sekaligus menjawab kekhawatiran penggunaan FaceApp.

Bahkan, FaceApp memberikan fitur khusus jika penggunanya ingin fotonya dihapus permanen dari servernya. FaceApp selalu menghapus foto setelah 48 jam. Hal ini, kata Pratama, untuk mengurangi beban data centernya.

"FaceApp juga tidak mengambil foto yang ada di smartphone warganet seperti isu yang santer diberitakan," kata dosen Etnografi Dunia Maya pada Program Studi S-2 Antropologi UGM ini.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement