Rabu 10 Jul 2019 03:09 WIB

Denmark Susun Aturan untuk Influencer

Sebelumnya, pengimpak atau influencer Denmark membagikan konten rencana bunuh diri

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Hasanul Rizqa
(Ilustrasi) Media sosial menjadi medium bagi influencer untuk bagikan konten
Foto: pixabay
(Ilustrasi) Media sosial menjadi medium bagi influencer untuk bagikan konten

REPUBLIKA.CO.ID, KOPENHAGEN -- Pemerintah Denmark berencana membuat regulasi yang mengatur pengimpak (influencer) populer di negara tersebut. Keputusan itu merespons adanya influencer yang mengunggah catatan bunuh diri di jejaring media sosial.

Seorang influencer, Fie Laursen, memiliki lebih dari 336 ribu pengikut. Dia diketahui mengunggah catatan rencana bunuh diri melalui akun Instagram. Sebaran catatan itu bertahan selama dua hari sebelum dihapus oleh kerabat Laursen. Keluarga influencer tersebut mengonfimasi bahwa saat ini Fie Laursen sedang dalam tahap pemulihan di rumah sakit.

Baca Juga

Menteri Anak dan Pendidikan Pernille Rosenkrantz-Theil mengatakan, seorang influencer sudah sepantasnya memiliki rasa tanggung jawab atas konten-konten yang dibagikan di media sosial. Unggahan Laursen memicu perdebatan di Denmark ihwal mekanisme pemerintah memantau konten daring dari influencer.

Rosenkrantz-Theil mengatakan kepada BBC, Rabu (10/7), pemerintah setempat menginginkan tiap influencer memiliki rasa tanggung jawab editorial sesuai dengan standar pers.

“Ketika Anda menjangkau sejumlah orang tertentu yang menjadi pengikut halaman Anda, maka Anda akan memiliki tanggung jawab yang sama seperti jika Anda seorang editorial di koran atau di media,” kata dia.

Dia mengatakan Denmark menginginkan standar pers juga diterapkan pada konten media sosial. Kemudian, ketika seorang influencer melanggar aturan itu, maka unggahan itu dapat dihapus. Influencer dengan jumlah pengikut tertentu, juga akan dibuat memiliki sejumlah administrator.

“Dalam kasus ini, orang tua ingin menghapus unggahan, dan tidak bisa, karena tidak ada orang lain yang memiliki akses ke akun ini. Kami ingin Anda memiliki tanggung jawab,” ujar Rosenkrantz-Theil.

Seorang blogger populer di Denmark, Sarah Louise Christiansen yang memiliki 128 ribu pengikut di Instagram menilai influencer harus dilihat dengan cara baru.

Influencer dan blogger belum diterima sebagai pekerjaan nyata dan bisnis nyata, dan saya pikir karena ini ada juga kurangnya perhatian di isu tersebut. Ada kurangnya tanggung jawab,” kata dia.

Christiansen tidak ingin dibatasi berbagai regulasi yang tak mendukung karirnya. Namun di sisi lain, Christiansen ingin ada regulasi yang membatasi //influencer// mengunggah isu negatif.

“Anda tidak dapat membandingkan blogging dengan surat kabar, sehingga Anda harus membuat pengaturan yang sama sekali baru, dan menganalisis cara-cara untuk melindungi blogger dan pengikut,” ujar Christiansen.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement