Jumat 26 Apr 2019 07:11 WIB

Mata Tetap Melihat Meski Terpejam, Apa yang Tampak?

Peneliti menjelaskan mata masih dapat melihat meski sedang terpejam.

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda
Anak-anak suka mengamati apa yang terlihat dalam kondisi terpejam. Dalam keadaan meram, mata mampu melihat bintik-bintik cahaya, bentuk geometris, kilatan, dan warna yang bergerak.
Foto: Pixabay
Anak-anak suka mengamati apa yang terlihat dalam kondisi terpejam. Dalam keadaan meram, mata mampu melihat bintik-bintik cahaya, bentuk geometris, kilatan, dan warna yang bergerak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebanyakan orang mungkin menganggap mereka tidak bisa melihat ketika matanya terpejam. Mereka berpikir hanya gelap yang akan tampak kala menutup mata.

Padahal, menurut studi, ternyata mata tetap melakukan aktivitas melihat sesuatu saat tertutup. Ivan Schwab, profesor oftalmologi di University of California, Davis, AS punya penjelasannya.

Menurut Schwab, dalam kondisi terpejam, mata mampu melihat bintik-bintik cahaya, bentuk geometris, kilatan, dan warna yang bergerak. Orang yang menggunakan penutup mata juga dapat mengalami hal itu.

"Ini seperti halusinasi non-narkoba," kata Schwab, yang juga penulis Evolution's Witness: How Eyes Evolved.

Schwab mengatakan, ketika kelopak mata tertutup tanpa penutup mata, kebanyakan orang dapat melihat bintik cahaya bergerak, bentuk geometris, kilatan putih, salju, dan beragam warna. Coba pejamkan mata dan lihat apa yang terjadi!

"Anak-anak suka melakukan ini, karena itu menyenangkan, dan mereka ingin tahu," ujar Schwab yang juga juru bicara klinis untuk American Academy of Ophthalmology, dikutip laman WSJ.

Jalur penglihatan adalah dari mata ke otak. Jika orang memberi tekanan pada bola mata saat mata tertutup, ada kemungkinan mereka akan melihat warna.

Fotoreseptor, sel-sel di retina yang mendeteksi cahaya, memiliki satu opsi untuk bereaksi kemudian mengirim pesan ke otak. Tekanan akan menyebabkan retina bertindak sama seperti jika dirangsang oleh cahaya.

Efek serupa dapat dibuat dalam kondisi khusus di laboratorium menggunakan sumber magnet yang ditempatkan di belakang kepala, tempat korteks visual berada. Percobaan itu disebut sensasi warna yang dihasilkan oleh rangsangan selain cahaya.

Banyaknya hal-hal yang dapat dilihat seseorang ketika mata tertutup disebut fenomena entoptic. Itu adalah fosfena dan efek visual lainnya yang dihasilkan oleh mata atau otak.

Pada dasarnya, sistem visual menciptakan bentuk, warna, atau pola yang menggunakan sisa cahaya yang tersedia. Sebelumnya ada penelitian pada abad ke delapan di Cina tentang memperlambat detak jantung dan berkonsentrasi.

Hasilnya, orang bisa menghasilkan fosfena selama keadaan hypnagogic atau tepat sebelum Anda tertidur. Orang menjadi melihat gambar cincin kuning-hijau dan awan ungu.

"Ilmu pengetahuan modern telah menunjukkan fotoreseptor tidak selalu benar-benar mati, dan kadang-kadang bisa menyala tanpa rangsangan cahaya," kata Schwab.

Sederhananya, apa yang kita lihat ketika mata kita tertutup adalah sinyal asing yang masuk ke otak. Otak berkata, "Apakah kamu melihat sesuatu?" Lantas, muncullah visual yang terlihat saat mata tertutup tersebut.

Tanpa penutup mata, hingga 80 persen cahaya akan lewat dan begitu mata beradaptasi dengan gelap, banyak phospenes yang bisa muncul. "Kebanyakan orang dapat melihat sinar matahari yang cerah dan mungkin bahkan sedikit bentuk saat mata tertutup," kata Schwab.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement