Sabtu 13 Apr 2019 17:33 WIB

Katie Bouman, Perempuan di Balik Foto Lubang Hitam Pertama

Tidak ada teleskop tunggal yang cukup kuat untuk menangkap lubang hitam.

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih
Katie Bouman.
Foto: the guardian
Katie Bouman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama ilmuwan Amerika Serikat (AS) Katherine Louise Bouman menjadi perbicangan hangat beberapa waktu terakhir. Dia menjadi sosok yang berhasil mengembangkan algoritma dan berhasil menangkap gambar lubang hitam (black hole) untuk pertama kalinya.

Perempuan berusia 29 tahun itu memimpin pengembangan program komputer yang memungkinkan terobosan citra. Dalam foto tersebut, lubang hitam terlihat dengan rupa lingkaran cahaya berisi debu dan gas, yang diperkirakan berlokasi 500 juta triliun kilometer dari bumi.

Baca Juga

"Saya melihat dengan tidak percaya bahwa gambar  lubang hitam pertama yang saya buat sedang dalam proses direkonstruksi," ujar  Bouman yang nampak gembira menunjukkan gambar tersebut, dilansir BBC, Sabtu (13/4).

Bouman menceritakan pertama kali membuat algoritma pada tiga tahun lalu, ketika masih menjadi mahasiswa pascasarjana di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Saat itu, ia memimpin proyek yang dibantu oleh  tim dari Laboratorium Ilmu Pengetahuan dan Kecerdasan Buatan MIT, Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian, dan Observatorium Haystack MIT.

Gambar lubang hitam, ditangkap oleh Event Horizon Telescope (EHT), jaringan delapan teleskop virtual terkait yang dibuat oleh algoritma oleh Bouman. "Ketika kami melihatnya untuk pertama kalinya, kami semua tidak percaya, itu sangat spektakuler," ucap Bouman.

Bouman mengatakan tim sangat beruntung dapat menangkap gambar tersebut. Ia telah mendapat pujian secara luas dari masyarakat dunia, termasuk dari MIT dan Smithsonian di media sosial.

"Tiga tahun yang lalu mahasiswa pascasarjana MIT Katie Bouman memimpin penciptaan algoritma baru untuk menghasilkan gambar lubang hitam pertama kali," ujar  pernyataan Computer Science & Artificial Intelligence Lab MIT.

Lubang hitam yang dikenal sebagai bagian dari ruang waktu, yang merupakan gravitasi paling kuat di luar angkasa. Selama ini, black hole tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Lubang hitam ditemukan dengan ukuran 40 miliar  kilometer atau tiga juta kali ukuran Bumi. Setelah ditemukan, black hole dipindai selama 10 hari di galaksi Messier 87.

"Ini (lubang hitam) lebih besar  dari ukuran seluruh Tata Surya kita," kata Prof Heino Falcke, dari Universitas Radboud di Belanda.

Bouman dan tim mengembangkan serangkaian algoritma yang mengubah data teleskopik menjadi foto bersejarah yang dibagikan oleh dunia. Dalam matematika dan ilmu komputer, algoritma adalah proses atau sekumpulan aturan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Tidak ada teleskop tunggal yang cukup kuat untuk menangkap lubang hitam, sehingga jaringan delapan teleskop diatur untuk melakukannya dengan menggunakan teknik yang disebut interferometri. Data yang ditangkap, kemudian disimpan di dalam ratusan hard drive yang kemudian dikirim ke pusat pemrosesan pusat di Boston, AS, dan Bonn, Jerman.

Metode yang dilakukan Bouman dalam memproses data mentah ini dikatakan berperan dalam penciptaan gambar yang mencolok. Ia mempelopori proses pengujian di mana banyak algoritma dengan asumsi berbeda dibangun ke dalamnya dan berusaha untuk memulihkan foto dari data.

Hasil algoritma kemudian dianalisis oleh empat tim yang terpisah, dengan tujuan meyakinkan kebenaran pada temuan mereka. "Kami adalah wadah para astronom, fisikawan, matematikawan, dan insinyur, dan itulah yang diperlukan untuk mencapai sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil," kata Bouman.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement