Sabtu 17 Feb 2018 22:28 WIB

Peternakan Hewan Bisa Jadi Solusi Perubahan Iklim

Metode peternakan tertentu disebut sanggup mengurangi dampak perubahan iklim.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari
Peternakan sapi
Foto: istimewa
Peternakan sapi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peternakan hewan bertangung jawab atas 14,5 persen dari emisi gas rumah kaca, bahkan produksi daging merah dan produk susu mencapai 65 persen. Akademi baru menemukan, justru peternakan sapi bisa menjadi salah satu solusi perubahan iklim.

Cara yang bisa dilakukan dengan menggunakan gerakan hewan liar atau menggembala hewan ternak di alam liar. Bagaimanapun, sapi dan domba adalah hewan mangsa, dan di alam liar mereka akan bergerak secara teratur dalam kelompok yang sedang berkumpul untuk menemukan rumput segar dan menjaga predator di kejauhan.

Metode tersebut disebut "penggembalaan massal", para pendukungnya berpendapat hal itu memungkinkan petani menghasilkan lebih banyak daging per hektare, tanpa menggunakan bahan kimia ataubiji-bijian. Sistem tersebut menghasilkan daging sapi yang lebih sehat.

Dalam sistem penggembalaan konvensional, ternak terpaksa merumput pada beberapa hektar padang rumput yang sama untuk waktu yang sangat lama. Hal itu membuat mereka selektif dan hanya merumput makanan favorit saja.

Sama seperti kita manusia, hewan ternak memerlukan campuran nutrisi dan mineral yang baik. Namun rumput yang dibuahi sangat banyak memberi mereka kekurangan gizi. Dan karena rumput kurang bergizi daripada sistem konvensional, petani harus menambahkan gandum ke dalam makanan ternak agar mereka dapat menghasilkan susu berkualitas setelah melahirkan atau menggemukkannya.

Peternak Amerika dan pengacara lingkungan Nicolette Niman, dalam bukunya Defending Beef menjelaskan, ternak pada kenyataannya bukan merupakan masalah iklim. Sebaliknya sapi sebenarnya merupakan solusi praktis dan hemat biaya untuk pemanasan planet ini, dikutip dari Independent, Sabtu (17/2).

Pernyataan tersebut pun diperkuat dengan ekolog satwa liar Allan Savory yang telah menghabiskan puluhan tahun untuk menganjurkan penggunaan teknik penggembalaan massal. Teorinya bertentangan dengan kebijaksanaan konvensional, dengan alasan alih-alih mengurangi jumlah ternak di padang rumput, justru harus meningkatkannya. Sebuah studi tahun 2007 oleh Intergovernmental Panel tentang Perubahan Iklim memperkirakan metode penggembalaan tersebut dapat mengurangi sekitar 90 persen kontribusi pertanian terhadap perubahan iklim.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement