REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Mahasiswi Fakultas Teknik Elektro Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Erlina Wati Halim, berinovasi menciptakan sebuah alat filtrasi asap yang unik. Alat tersebut dapat diaplikasikan di dalam maupun di luar ruanga
Mahasiswa angkatan 2012 tersebut mengatakan, latar belakang pembuatan alat tersebut, karena saat ini Indonesia mulai sering mengalami bencana asap. Sehingga ia berpikir cara untuk mengurangi dampak asap masalah tersebut.
"Alat ini bisa diaplikasikan di dalam maupun di luar ruangan, dari segala sesuatu yang menimbulkan asap. Seperti ruangan merokok, atau di lokasi kebakaran," jelasnya kepada wartawan di kampus UKWMS, Kamis (8/9).
Filter asap buatan Erlina terdiri dari sebuah kotak yang menyerupai lemari kayu, dua kipas angin, serta karbon aktif sebagai media filtrasinya. Dua kipas angin tersebut masing-masing berfungsi untuk menyedot asap masuk ke dalam alat, sedangkan yang lain berfungsi untuk menghembuskan udara yang telah difiltrasi keluar dari alat. Alat tersebut juga dilengkapi dengan sensor mq7 yang berfungsi untuk mendeteksi gas Karbon Monoksida (CO) dengan batasan konsentrasi yang bisa diatur untuk memfiltrasi asap.
Erlina menyatakan karyanya ini memiliki kelebihan tidak ada efek samping karena menggunakan komponen karbon aktif di dalamnya. Bahkan, ia memanfaatkan barang-barang bekas untuk membuat karya tersebut. Erlina membutuhkan waktu tiga bulan dan biaya sekitar Rp 500 ribu untuk menyelesaikan alat tersebut.
Erlina menjelaskan, cara kerja alat tersebut cukup sederhana. Alat yang memiliki panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 1,2 meter ini disambungkan dengan aliran listrik. Alat ini akan bekerja jika kondisi asap dinyatakan berbahaya bagi tubuh yakni di atas 50 PPM. Batas tersebut sesuai dengan standar ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara). Pada saat mendeteksi adanya asap dengan kadar CO mulai 50 PPM ke atas, alat akan secara otomatis melakukan filtrasi terhadap asap.
"Alat ini akan menyaring asap kotor masuk ke dalam melalui kipas angin, kemudian dilewatkan pada media fitrasi," jelasnya.
Ia melanjutkan, dalam proses filtrasi asap, karbon aktif yang berbentuk menyerupai kerikil arang tersebut berperan sangat penting. Setelah proses filtrasi, alat tersebut akan menghembuskan udara yang lebih bersih.
Waktu yang dibutuhkan untuk proses filtrasi menyesuaikan kadar CO yang terdeteksi. Misalnya, pada kadar 115 PPM, maka alat akan terus bekerja sekitar selama 34 menit non stop. Sedangkan kadar 50 PPM hanya butuh proses filtrasi selama sekitar 12 menit.
"Alat akan secara otomatis berhenti bekerja atau kembali dalam posisi standby saat mencapai batas 30 PPM yang menandakan udara sudah berada dalam keadaan benar-benar aman untuk dapat dihirup manusia," ungkapnya.
Alat tersebut dibuat Erlina sebagai tugas akhir atau skripsinya. Ia telah dinyatakan lulus dengan IPK 3,55. Erlina dibimbing oleh oleh dua dosen yakni Lanny Agustine dan Andrew Joewono. "Meskipun tidak dijalankan tanpa sensor, alat tersebut tetap bisa menjalankan fungsinya sebagai penyaring asap," ucap Andrew Joewono.
Meski demikian, Andrew menilai alat filtrasi asap buatan Erlina tersebut masih memerlukan beberapa pembenahan, di antaranya terkait karbon aktif. Ia berharap alat tersebut dapat diaplikasikan untuk mengurangi dampak asap yang berbahaya bagi kesehatan. Ia juga menyatakan siap jika ada instansi maupun perorangan yang memesan alat tersebut.