Jumat 10 Jun 2016 00:26 WIB

Software Bajakan Rugikan Negara Hingga Rp 65,1 Triliun

Rep: Crystal Liestia/ Red: Dwi Murdaningsih
Anggota polisi Polda Metro Jaya menyita ribuan keping VCD/DVD bajakan dan VCD/DVD porno di Plaza Glodok, Jakarta Pusat, Rabu (24/6). (Republika/Yasin Habibi)
Foto: Republika/ Yasin Habibi
Anggota polisi Polda Metro Jaya menyita ribuan keping VCD/DVD bajakan dan VCD/DVD porno di Plaza Glodok, Jakarta Pusat, Rabu (24/6). (Republika/Yasin Habibi)

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Pembajakan masih menjadi musuh dalam berkarya. Masyarakat diminta semakin sadar terhadap hak cipta. Direktur Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa Ditjen Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM, Salmon Pardede mengungkapkan kampanye anti pembajakan terhadap karya intelektual harus tetap kontinyu dilakukan. Sebab, menurut dia, pembajakan sama seperti peredaran narkoba yang harus diperangi.

"Gampang dapat untung. Jadi terus edukasi dan sosialisasi di semua tingkatan dari sekolah, masyarakat, dan pedagang. Kalau kita berhenti, negara terus dirugikan, dan para kreator tidak mau berinovasi lagi, karena karya mereka terus dibajak," kata dia, Kamis (9/6).

Dia mengungkapkan, pihaknya telah bekerjasama dengan pihak Bareskrim Mabes Polri, PT Angkasa Pura II, Masyarakat Indonesia Anti Pemalusan (MIAP), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dan pihak-pihak terkait lainnya, sejak tahun 2013, melakukan sosialisasi, edukasi, bahkan hingga tindakan represif terhadap peredaran barang palsu dan bajakan.

Pada tahun 2014, Salmon mengungkapkan, sudah ada penyitaan barang palsu berupa VCD, DVD, dan software bajakan hingga 14 truk dari Glodok Plaza. Dia menyebutkan, dari beragam penindakan yang dilakukan, khusus untuk software bajakan saja telah menimbulkan potensi kerugian negara hinga Rp 65,1 triliun, dalam kurun waktu 2014 hingga saat ini.

Salmon menambahkan, produk bajakan ada di segala lini. Misalnnya, kata Salmon, beberapa tahun lalu pihaknya menindak produk pakain jadi dengan merek terkenal asal Inggris yang diijual di outlet terkenal di Jakarta, tetapi palsu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement