Sabtu 21 May 2016 06:05 WIB

Mata Ternyata Bisa Tunjukkan Orientasi Seksual

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Ani Nursalikah
Mata bisa tunjukkan orientasi seksual.
Foto: sheknows.com
Mata bisa tunjukkan orientasi seksual.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Pelebaran dan penyempitan pupil dapat menunjukkan ketertarikan pada seseorang pada orang lain. Dilatasi pupil dapat menunjukkan orientasi seksual seseorang.

Saat tergoda dan tertarik pada sesuatu, pupil mata seseorang akan membesar tanpa disadari. Peneliti psikologi perkembangan Cornell University, Ritch Savin-Williams, melakukan studi skala besar untuk mencocokan pelebaran pupil mata seiring dengan rasa ketertarikan yang timbul.

''Jadi jika seorang pria mengaku normal, pupil matanya akan melebar jika melihat wanita,'' kata Savin-Williams seperti dikutip Live Science, Kamis (19/5).

Savin-Williams mengatakan, dilatasi pupil segera terjadi sebagai respons kegembiraan atas stimulus tertentu entah karena melihat wajah orang yang dicintai atau satu karya seni yang bagus. Dilatasi pupil merupakan tanda kerja sistem saraf otomatis.

Pada metode penelitian tradisional, orientasi seksual dilakukan dengan melihat tanda perubahan pada kelamin. Namun ini bisa jadi bias karena ada sebagian orang yang bisa menahan dorongan seksualnya atau karena tidak nyaman dengan lingkungan laboratorium tempat tes dilakukan.

''Beberapa orang juga merasa tidak mau saja terlibat dalam riset yang melibatkan ketertarikan seksual mereka,'' kata Savin-Williams.

Cara lain menentukan orientasi seksual seseorang adalah dengan stimulus tertentu pun kadang problematik karena partisipan bisa jadi tak mengaku perasaannya, bahkan pada dirinya sendiri. Bertanya langsung soal orientasi seksual seseorang pun belum tentu bisa di semua kultur.

Dalam penelitian ini, Savin-Williams dan rekannya Gerulf Rieger dari Cornell University melibatkan 165 lelaki dan 160 perempuan, baik penyuka sesama jenis, normal dan biseksual. Mereka diperlihatkan video lelaki, perempuan dan pemandangan. Di saat yang sama, ada kamera perekam pergerakan pupil peserta selama mereka menonton.

Hasilnya menunjukkan kecocokan antara pola dilatasi pupil dengan pola ketertarikan. Pada perempuan, persoalannya lebih kompleks karena dilatasi pupil juga terjadi saat melihat gambar wanita. Namun, Savin-Williams menegaskan dilatasi pupil tidak diiringi respons tubuh lainnya.

Belum diketahui pasti apa yang menyebabkan perempuan memiliki respon seperti ini. Namun, ini tak berarti perempuan normal memiliki ketertarikan tersembunyi para perempuan lain.

Beberapa teori mengemuka soal ini, salah satunya karena perempuan lebih rentan menjadi korban kejahatan seksual sehingga respons dilatasi pupil terjadi bahkan saat stimulus seksual diberikan dengan cara yang tidak menyenangkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement