Senin 25 Apr 2016 11:55 WIB

Limbah Tulang Ikan Bisa Dibikin Baterai Lho

Rep: Christiyaningsih/ Red: Dwi Murdaningsih
Seorang pekerja menjemur kulit, tulang serta sirip ikan hiu.
Foto: Antara/Dedhez Anggara
Seorang pekerja menjemur kulit, tulang serta sirip ikan hiu.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (JTE FT-UB) mengenalkan pemanfaatan teknologi energi alternatif ramah lingkungan sel surya kepada warga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Pelatihan ini bertajuk Edupreneur Piranti Elekronik Berbasis Solar Cell dan dilaksanakan Sabtu (16/4).

Pelatihan di Balai Dusun Sendang Biru dihadiri perwakilan 25 Pokdarwis. Peserta dibekali kemampuan pelatihan pembuatan baterai dari tulang ikan. Khusus untuk pelatihan pembuatan baterai dari limbah tulang ikan, alat ini dapat dimanfaatkan untuk baterai solar cell ataupun souvenir.

Dari hasil penelitian, limbah tulang ikan dapat berfungsi sebagai elektrolit dan menyimpan tenaga listrik dalam bentuk ion. Dosen penggagas kegiatan Eka Maulana menuturkan Limbah ikan di sana masih dibuang, padahal bisa digunakan untuk baterai.

"Kemarin diuji coba hasilnya bisa menghasilkan tegangan 1,4 V. Dari segi tegangan dan arus masih perlu diteliti. Nanti kita coba dengan tambahan bahan-bahan lainnya," kata dosen fakultas tekni Universitas Brawijaya dalam keterangan yang diterima Republika.co.id, Senin (25/4).

Selain pelatihan pembuatan baterai dari tulang ikan, peserta juga dibekali kemampuan merakit panel surya, pelatihan manajemen menuju desa wisata mandiri, teknik sablon dan merchandise, serta pelatihan industri kreatif dan digital marketing.

Dari kajian tim, potensi yang sangat menonjol dari Desa Tambakrejo adalah desa wisata. Terdapat 10 pantai yang berpotensi dan belum banyak diketahui masyarakat. Kondisi pantai masih sangat alami dan bersih. Jaringan listrik juga belum masuk ke daerah tersebut. Pantai-pantai tersebut diantaranya pantai Sendiki, Clungup, Gatra, Bangsong, Asmoro, Sapana, Mini, Batu Pecah, Bukit Wareng, dan Tiga Warna.

“Melihat potensi pantai yang bisa disinari matahari hingga 11 jam, maka kami berupaya mengembangkan solar cell disana,” jelas Eka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement