Rabu 02 Dec 2015 17:32 WIB
Temuan Pengobatan Kanker Ditutup Kemenkes

Kilas Balik Perjalanan Warsito Hingga Temukan Alat Terapi Kanker

Penemu alat terapi kanker berbasis listrik statis, Warsito Purwo Taruno. (Republika/Rakhmawaty La'lang)
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Penemu alat terapi kanker berbasis listrik statis, Warsito Purwo Taruno. (Republika/Rakhmawaty La'lang)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Temuan ilmuwan Warsito Purwo Taruna mengenai detektor kanker dan alat terapi kanker dipermasalahkan oleh Kementrian Kesehatan. Oleh Kementrian Kesehatan, Electrical Capacitance Volume Tomography (ECTV) sebagai alat deteksi kanker dan Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) sebagai alat terapi untuk penderita kanker yang dikembangkan Warsito dianggap tidak ilmiah.

Kepada Republika.co.id, Warsito pernah bercerita, riset mengenai ECTV selesai pada 2004, tapi masih dalam bentuk simulasi. Meksi begitu, sejumlah perusahaan terkemuka di dunia kala itu sudah mengincarnya. Dua tahun berselang, 2006, teknologi pemindai 4D pertama di dunia itu akhirnya dipatenkan di Amerika Serikat dan lembaga paten internasional PTO/WO.

ECVT mengirimkan sinyal dari sensor menjadi sinyal yang mengintroduksi dengan objek pada sifat kelistrikan berbeda. Ini yang menyebabkan perubahan dari sinyal tersebut. Setelah diekstraksi tingkat perubahannya lalu diproses dan direkonstruksi yang menjadi informasi jadi objek yang seperti sinyal.

ECVT mengukur sinyal-sinyal listrik yang dihasilkan dari aktivitas otak manusia dengan merekonstruksi citra volumetrik serta aktivitas otak. Ini kemudian amati perubahan tentang informasi balik dari masing-masing objek yang memberikan pengaruh berbeda-beda. Seperti jaringan otot berinteraksi beda dengan jaringan lemak, darah, atau jaringan sel kanker yang direkonstruksi dengan jaringan tersebut.

cerita warsito, beratnya riset di Indonesia

wTeknologi sinyal dari lemak diubah menjadi image 3D, dari objek yang dilihat melalui teknologi algoritma rekonstruksi dan komputasi atau meniru cara berpikir otak manusia. Ini paling canggih di dunia. Inggris dan Jerman saja belum punya. Pada 2006 belum bisa membuat peranti keras. Lalu teknologi berkembang hingga pada 2010 mampu menangkap sinyal sekunder.

ECVT berhasil saat balik ke Indonesia pada 2003. Pada 2004 dia bolak-balik Amerika-Indonesia membuat peranti lunak sendiri tapi peranti kerasnya dari Inggris. Pada 2005 membuat peranti keras sendiri dibantu doktor lulusan Jepang sama teknisi engineer dalam negeri. Pada 2008 membuat peranti keras dengan menghasilkan generasi ECVT pertama keluar yang diakui Departemen Energi Amerika Serikat.

Pada 2010 ECVT generasi kedua lahir yang berhasil keluar, diaplikasikan untuk payudara dan otak. Pada 2013 direncanakan generasi ketiga dengan prosesor kecepatan tinggi dan supercomputer yang bisa menganalisis karakter seseorang dalam hitungan detik. Komputer yang luar biasa tinggi dengan sinyal tinggi. Nantinya prosesor canggih 1/1.000 detik ini menyamai teknologi chips Inggris.

Setelah kanker dideteksi dengan ECVT, baru kemudian dia membuat Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) untuk terapi penyakit kanker. Menurutnya, setiap penderita kanker memiliki kekuatan listrik yang berbeda-beda.  Kedua alat ini hanya menggunakan sumber daya yang rendah, yaitu baterai tiga volt.

Netizen buat petisi online dukung Warsito

sumber : arsip republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement