Selasa 27 Oct 2015 09:39 WIB

Pengamat: Indonesia Minimal Harus Bangun Satu PLTN

Rep: Amri Amrullah/ Red: Erik Purnama Putra
Petugas memeriksa unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok, Kabupaten Semarang, Senin (10/8).
Foto: Antara
Petugas memeriksa unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok, Kabupaten Semarang, Senin (10/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia dinilai sudah saatnya memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengatasi krisis listrik yang masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Pegamat kelistrikan, Umar Said mengatakan, pembangunan PLTN di Indonesia sudah saatnya direalisasikan. Dalam rangka memperingati Hari Listrik Nasional yang 70, menurut dia PLTN bisa menjadi salah satu solusi mengatasi krisis listrik.

"Setidaknya Indonesia memiliki satu PLTN yang menjadi contoh pengembangan tenaga nuklir untuk kebutuhan listrik," ujarnya kepada Republika.co.id, Selasa (27/10).

Ia menilai semangat pemerintah membangun infrastruktur listrik 35 ribu megawatt, bisa menjadi titik awal pembangunan PLTN. Kekhawatiran akan kebocoran radiasi nuklir, seharusnya tidak lagi ditanggapi berlebihan.

Selama ini kajian Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) untuk penerapan PLTN di Indonesia dinilai sudah sangat cukup mutakhir dan layak. Terutama cukup aman bagi beberapa wilayah di luar Jawa yang tidak terdampak gempa.

 

Pembangunan PLTN ini selain memenuhi kebutuhan listrik nasional juga sebagai pengembangan kemandirian teknologi nuklir. Selama ini sumber daya manusia Indonesia dalam bidang nuklir telah mumpuni, karena itu dibutuhkan sebuah PLTN agar teknologi nuklir Indonesia tidak tertinggal dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement