Ahad 16 Feb 2014 06:20 WIB

Peneliti: Media Sosial Suburkan Sikap Rasisme

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Yudha Manggala P Putra
Twitter. Ilustrasi
Foto: PA Images / Andrew Matthews/PA Wire
Twitter. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON -- Sebuah lembaga pemerhati jejaring sosial di London, Inggris mengatakan, teknologi informasi mutakhir saat ini semakin membuat warga dunia terjerumus dalam sikap rasisme. Lembaga think-thank bernama Demos, mengatakan, ada lebih dari 10 ribu lebih ungkapan rasisme tersebar lewat jejaring sosial saban hari.

''Ungkapan itu hanya terpantau lewat Twitter saja,'' tulis Demos di laporan rutinnya, seperti dilansir Russian Television (RT), Sabtu (15/3).

Laporan Demos, dikatakan RT hanya untuk ungkapan di jejaring Twitter dalam bahasa Inggris.Tidak diterangkan kapan penelitian Demos ini dilakukan. Tapi, RT melansir, Demos mencatatkan sekira 160 juta tweet yang terkirim saban hari dalam bahasa Inggris lewat 14 ribu pengguna akun di Twitter.

Setelah menganalisa selama sembilan hari oleh peneliti di Demos, sekira 126.975 diantara kicauan pengguna Twitter punya nada rasisme.

Demos menemukan ungkapan-ungkapan dengan istilah rasisme dalam bahasa Inggris bernada kasar dan berkonotasi negatif ke kelompok-kelompok tertentu. Demos pun, mencatatkan 10 kata umum makian dalam bahasa Inggris yang kerap digunakan untuk mencaci secara rasisme.

Katakanlah, seperti kata Boy White (laki-laki kulit putih), Paki (untuk orang-orang keturunan Timur Tengah), Whitey (orang-orang berkulit kuning dari Asia), Nigga (berarti kulit hitam), Squinty (dikhususkan untuk orang China, Korea dan Jepang), dan lain-lain.

Demos menerangkan, dari penelitiannya itu, lebih dari 75 persen diantaranya dilontarkan oleh pengguna akun dari kalangan kulit putih. Sementara antara 50 sampai 70 persen, pengungkap rasialisme di Twitter adalah lantaran bentuk solidaritas akibat nada 'penghinaan' itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement