REPUBLIKA.CO.ID, Genus atau jenis baru dari kelelawar ditemukan di Sudan oleh peneliti dari Bucknell University, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), Fauna&Flora International, dan Kementerian Konservasi Alam Liar dan Pariwisata Sudan Selatan. Spesies yang bernama latin Niumbaha superba itu memiliki corak bulu seperti seekor luwak.
Kelelawar ini memiliki corak bintik dan garis-garis berwarna hitam putih. Ia berpostur tubuh kecil dan ditemukan di Bangangai Game Reverse, Sudan Barat Selatan yang merupakan daerah hutan dengan curah hujan tinggi (savana).
Profesor dari Bucknell Associate of Biology, DeeAnn Reeder mengatakan ia tidak pernah melihat kelelawar dengan pola corak tubuh yang unik seperti ini. ''Pertama kali saya melihatnya, ini adalah penemuan sepanjang masa,'' kata dia seperti dilansir Science Space and Robots dan BBC Nature.
Sekembalinya ke AS, Reeder menemukan ada kelelawar yang mirip dengan penemuannya di Sudan. Tercatat kelelawar tersebut bernama latin Glauconycteris superba yang ditemukan di dekat Republik Congo pada 1939.
Namun, ia memastikan kelelawar Sudan itu tidak cocok dengan kelelawar dalam Genus Glauconycteris. Reeder mengatakan setelah diteliti dengan hati-hati, karakter bentuk tengkorak, sayap, ukuran, cuping telinga dan penampakannya tidak mirip.
''Kelelawar ini berbeda dan kita harus membuat genus baru,'' ujar Reeder. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Zookeys, Reeder dan penulis lainnya dari Smithsonian Institution, Universitas Islam di Uganda menempatkan kelelawar tersebut dalam genus baru yaitu Niumbaha.
Niumbaha memiliki arti 'jarang' atau 'tidak biasa' dan bahasa Zande. Zande sendiri adalah bahasa yang biasa digunakan oleh orang Azande dari Western Equatoria State, Republik Sudan Selatan. Yaitu tempat kelelawar ini ditemukan.