Selasa 12 Feb 2013 22:49 WIB

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Makin Diperlukan

Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)
Foto: thenewsinn.com
Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) As Natio Lasman, mengatakan pemanfaatan nuklir untuk energi semakin diperlukan mengingat terbatasnya sumber bahan bakar dari fosil.

"Semakin lama, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tersebut makin dibutuhkan. Jepang sebelum terjadi gempa pada 2011 mempunyai 55 unit PLTN, namun sejak tragedi Fukushima semuanya dimatikan. Tapi sekarang, mereka tidak tahan juga karena tidak mempunyai sumber daya alam untuk bahan bakar, dan akhirnya mulai dinyalakan kembali dua unit PLTN," ujar As dalam acara "media gathering" di Jakarta, Selasa (12/2).

Dimatikannya sejumlah unit reaktor nuklir di Jepang tersebut, lanjut As, berdampak pada biaya produksi barang-barang pabrikan Jepang.

Dia memprakirakan, jika hal tersebut dibiarkan terus-menerus akan menyebabkan produk Jepang kalah saing dibandingkan produk-produk dari Korea.

"Sekitar tahun 90-an di Jerman juga terjadi penolakan terhadap PLTN. Tapi setelah dua kabinet berlalu, akhirnya mereka sadar jika tidak bisa tergantung dengan sumber bahan bakar fosil lagi," jelas dia.

Bapeten memperkirakan pada 2030, terdapat penambahan PLTN sebanyak 420 unit di dunia. Sebagian besar unit PLTN tersebut ada di Asia. Hal itu dilihat dari dokumen resmi yang sudah diajukan beberapa negara seperti Thailand, India, Korea Selatan dan China.

"Persaingan pada masa yang akan datang adalah persaingan energi," katanya.

Listrik yang dihasilkan dari tenaga nuklir, jelas dia, lebih murah karena hanya dengan 1 gram bisa menghasilkan listrik sebanyak 1 Megawatt atau setara dengan tiga ton penggunaan batubara.

Tenaga ahli Indonesia, lanjut dia, sudah mampu mengelola dan mengawasi PLTN tersebut. Bahkan delapan ahli nuklir Indonesia saat ini bekerja sebagai inspektur di Badan Tenaga Atom PBB (IAEA).

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement