Rabu 01 Dec 2010 06:36 WIB

Tolak Merger Esia-Flexi, Sekar Telkom Demo ke Istana

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Serikat Karyawan (Sekar) PT Telkom Tbk menduga ada agenda tersembunyi komisaris dan Kementerian BUMN berkaitan dengan rencana merger atau penggabungan usaha Flexi dengan layanan Esia milik PT Bakrie Telecom Tbk.

"Kami menduga ada pihak yang mengambil keuntungan atas rencana konsolidasi Flexi dengan Esia," kata Sekjen DPP Sekar Telkom, Asep Mulyana, saat unjuk rasa bersama sekitar 400 karyawan Telkom di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa.

Menurut Asep, aksi unjuk rasa digelar untuk menolak rencana merger tersebut karena hanya akan merugikan Telkom dan negara. "Penjualan aset negara harus dihentikan. Karena ini ada agenda terselubung mencari keuntungan pribadi," kata Asep.

Ia mengindikasikan, ketika isu merger tersebut bergulir pertama kali di media masa, saham Bakrie di pasar modal langsung melejit, sementara saham Telkom terus merosot. "Untuk itu kami akan menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyampaikan aspirasi kami," kata Asep.

Ia pun juga menduga Kepala Negara tidak mengetahui rencana merger tersebut. "Proses merger ini merupakan aksi sepihak Kementerian BUMN dan Komisaris Utama Telkom (Tanri Abeng)," tegas Asep.

Ia menambahkan, aksi korporasi berupa merger tersebut seharusnya dilakukan antar direksi perusahaan saja, dan tidak perlu ada pihak eksternal seperti Kementerian BUMN.

"Pada beberapa kesempatan Komisaris Utama juga sangat antusisias jika dimintai komentar wartawan soal merger Flexi-Esia. Ada apa ini? Komut itu sudah akan diganti, tapi seakan-akan aksi korporasi ini dia yang mendisain," kata Asep.

Sebanyak 400 karyawan PT Telkom Tbk dalam Sekar Selasa siang, berunjukrasa di depan Istana Merdeka, menolak rencana merger Flexi dengan Esia.

Dalam orasi mereka, karyawan juga menyuarakan agar pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 17 Desember 2010, pemegang saham hanya mengangkat direksi dan komisaris yang berkomitmen tidak akan menjual aset negara.

"Kami tetap menolak semua kebijakan yang diambil pemegang saham untuk menggabungkan Flexi-Esia. Kami juga siap melakukan mogok nasional dengan mengerahkan 22.000 orang karyawan Telkom untuk melakukan aksi yang lebih besar jika aspirasi karyawan tidak didengarkan," katanya.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement