Kamis 04 Apr 2024 20:30 WIB

Studi: Manusia Lebih Sering Tularkan Virus ke Hewan

Hewan yang paling terdampak oleh anthroponosis adalah peliharaan seperti kucing.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Friska Yolandha
Pekerja mengajak kucing bermain di jasa penitipan hewan, Jakarta, Kamis (4/4/2024). Menurut sebuah studi terbaru, manusia dua kali lebih sering menularkan virus kepada hewan dibandingkan sebaliknya.
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja mengajak kucing bermain di jasa penitipan hewan, Jakarta, Kamis (4/4/2024). Menurut sebuah studi terbaru, manusia dua kali lebih sering menularkan virus kepada hewan dibandingkan sebaliknya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa penyakit mematikan yang mengintai manusia berasal dari patogen yang berpindah dari hewan ke manusia. Salah satunya adalah virus penyebab AIDS yang ditularkan dari simpanse kepada manusia. Siapa sangka, "pertukaran patogen" ini tak hanya terjadi satu arah saja.

Menurut sebuah studi terbaru, manusia dua kali lebih sering menularkan virus kepada hewan dibandingkan sebaliknya. Temuan ini terungkap setelah tim peneliti menganalisis hampir 12 juta genom virus dan mendeteksi hampir 3.000 contoh virus yang berpindah dari satu spesies ke spesies lain.

Baca Juga

Dari sekitar 3.000 virus tersebut, sebanyak 79 persennya mengalami perpindahan dari satu spesies hewan ke spesies hewan lainnya. Sedangkan 21 persen sisanya merupakan virus yang berpindah dari manusia ke hewan atau sebaliknya.

Di antara virus-virus yang bertransmisi dengan melibatkan manusia dan hewan ini, sebanyak 64 persennya merupakan virus yang menular dari manusia ke hewan. Lalu 36 persen sisanya adalah virus yang menular dari hewan ke manusia.

Penyakit yang ditularkan dari manusia ke hewan dikenal dengan istilah penyakit anthroponosis. Sebaliknya, penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia dikenal sebagai penyakit zoonosis.

Menurut studi, hewan yang paling terdampak oleh anthroponosis adalah hewan peliharaan seperti kucing dan anjing, hewan yang didomestikasi seperti babi, kuda, dan sapi, unggas seperti ayam dan bebek, primata seperti simpanse, gorila dan monyet lolong, serta satwa liar seperti rakun, black tufted marmoset, dan tikus berbulu lembut Afrika. Dari kelompok-kelompok hewan ini, studi menemukan bahwa hewan yang berpeluang terdampak lebih besar oleh penyakit anthroponosis adalah satwa liar.

"Temuan ini benar-benar menyoroti dampak besar kita terhadap lingkungan dan hewan-hewan di sekitar kita," ujar mahasiswa doktoral di bidang biologi komputasi dari University College London Genetics Institute sekaligus ketua tim peneliti, Cedric Tan, seperti dilansir Reuters pada Kamis (4/4/2024).

Baik manusia maupun hewan dapat menjadi....

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement