Kamis 22 Feb 2024 19:56 WIB

BRIN Ungkap Perubahan Tata Guna Lahan Jadi Penyebab Tornado di Bandung

Awan-awan besar kumulonimbus berkumpul di Rancaekek.

Warga bersama petugas dari unsur terkait berupaya membereskan bangunan dan pohon-pohon tumbang akibat angin puting beliung yang terjadi di Jalan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Kamis (22/2/2024). Menurut Pakar klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan, angin kencang yang merusak banyak bangunan di Rancaekek  diduga jenis badai tornado.
Foto: Republika/Edi Yusuf
Warga bersama petugas dari unsur terkait berupaya membereskan bangunan dan pohon-pohon tumbang akibat angin puting beliung yang terjadi di Jalan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Kamis (22/2/2024). Menurut Pakar klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan, angin kencang yang merusak banyak bangunan di Rancaekek diduga jenis badai tornado.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan menyatakan perubahan tata guna lahan dari sebelumnya kawasan hijau menjadi industri merupakan salah satu penyebab puting beliung di Rancaekek, Kabupaten Bandung,  Jawa Barat.

 

Baca Juga

"Sejak tanggal 19 dan 20 Februari 2024 sudah ada tanda-tanda indikasi kawasan itu mengalami pemanasan yang intensif," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (22/2/2024).

 

Eddy menjelaskan uap air dari utara, selatan, barat, dan timur, masuk semua ke Rancaekek, sedangkan pada kawasan lain atau daerah sekitar Rancaekek tidak ikut mengalami fenomena tersebut.

 

Pemanasan intensif itu membuat Rancaekek, kata dia, secara tiba-tiba menjadi kawasan pusat tekanan rendah. Awan-awan besar kumulonimbus berkumpul di Rancaekek.

"Kenapa bisa berputar? Ini ada mekanisme lain, mungkin karena ada desakan angin, katakanlah pada (ketinggian) 850 (meter) yang berasal dari Australia, kemudian berputar. Nah, di situlah terbentuk tropical cyclone," kata Eddy.

 

Lebih lanjut dia menerangkan bahwa bila langit sudah mulai gelap dan pekat, angin sudah mulai kencang, tidak ada lagi cahaya matahari masuk, dan benda-benda kecil sudah mulai terangkat, maka itu adalah fase pembentukan puting beliung dari pertumbuhan menjadi puncak.

 

Ketika angin sudah mulai berputar, maka puting beliung tersebut akan menelan semua kawasan yang mengalami fenomena tekanan rendah.

 

"Delta T (perbedaan dua suhu) tajam. Siang hari panas banget, malam hari dingin banget. Itulah yang menjadikan kawasan Rancaekek berbeda dengan kawasan di sekelilingnya," papar Eddy.

 

"Kawasan yang menerima cahaya matahari lama lebih dari 12,1 jam berpotensi besar menjadi pusat tekanan rendah, sehingga awan-awan yang ada di sekeliling akan tersedot," pungkasnya.

 

Pada 21 Februari 2024 pukul 16.00 WIB bencana alam puting beliung yang berpusat di Rancaekek melanda Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang.

 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat 534 bangunan mengalami kerusakan akibat bencana tersebut. Sebanyak 835 Kepala Keluarga (KK) di lima kecamatan yang ada di dua kabupaten itu mengalami dampak.

 

Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat mengatakan dari data di Kabupaten Sumedang ada 413 KK terdampak dan di Kabupaten Bandung sebanyak 422 KK terdampak.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement