Rabu 07 Feb 2024 07:12 WIB

Jadi Pionir Video Pendek, Benarkah Pengguna Mulai Bosan dengan Inovasi Tiktok?

TikTok kini makin dibanjiri iklan dan bahkan membuat video jadi lebih panjang

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Logo TikTok.
Foto: AP Photo/Kiichiro Sato, File
Logo TikTok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan Tiktok yang begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir hingga stabil saat ini disebut menyimpan kejutan tak sedap. Dalam laporan yang dikeluarkan Gizmodo, portal berita asal Amerika Serikat, penyebabnya adalah para penggunanya mulai jengah dengan ‘transformasi’ aplikasi asal China itu yang tak menyenangkan seperti dulu.

“Tiktok tetap menjadi bisnis iklan sosial dengan pertumbuhan tercepat, tetapi pertumbuhan pendapatan iklannya melambat," kata Analis Media Sosial Utama di Insider Intelligence Jasmine Enberg dikutip dari Gizmodo, Selasa (6/2/2024).

Jasmine menerangkan, ada batas untuk monetisasi iklan video pendek dan mengubah poros ke video yang lebih panjang untuk membantu meningkatkan pendapatan iklannya. Tetapi TikTok sejatinya merupakan pemelopor revolusi video-video pendek. Hal itulah yang kemudian berisiko terjadi ‘penyimpangan’ dari penggunaan intinya yang dahulu menyenangkan, menghibur.

“Tapi Tiktok merupakan pionir revolusi video berdurasi pendek, dan itu (pengembangan) menjadi risiko terhadap keunggulannya, yakni hal yang menyenangkan, menghibur,” kata Jasmine.

Gizmodo dalam artikelnya menyebut, Tiktok telah memadati aplikasinya dengan fitur-fitur yang kurang disukai pengguna. Tiktok juga disebut mendorong konten yang mengurangi keunggulan yang dicari di Tiktok oleh para penggunanya ketika berselancar di media sosial.

Salah satu contoh yang disebutkan adalah TikTok Shop. Perusahaan ini mendorong e-commercenya dengan begitu kencang sehingga para pengguna kehilangan esensi dari awal mula Tiktok. Kini Tiktok disebut makin dibanjiri iklan. Bahkan, video organik dari para kreator kini mengharapkan bagian dari keuntungan.

Aplikasi itu bahkan sedang menguji fitur baru yang menggunakan AI untuk mengidentifikasi produk di latar belakang konten biasa dan mengubah setiap video menjadi iklan. Selain itu, dengan tujuan bersaing dengan YouTube, kabarnya Tiktok tengah bersiap memperbolehkan pengguna mengunggah video berdurasi 30 menit dan mendorong konten horizontal daripada format vertikal standar aplikasi.

Berdasarkan data, pengguna mulai meninggalkan Tiktok terlihat dari jumlah pertumbuhan monthly active users (MAU) alias pengguna aktif bulanan yang tak lagi luar biasa. Kabarnya aplikasi berbagi video itu mulai ditinggal karena Tiktok Shop. Secara jumlah download, Tiktok masih di urutan pertama. Tapi, mereka harus puas berada di urutan kelima dalam MAU.

Di Indonesia, seperti diketahui, masa uji coba Tiktok Shop yang sudah bergabung dengan Tokopedia diminta oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Kemendag memberi waktu kurun waktu tiga-empat bulan soal perpindahan transaksi dari Tiktok Shop ke Tokopedia. Dan hal itu diminta agar dipatuhi. 

"Ini perlu ditransisi, makanya diberikan waktu 3-4 bulan, pindahin pedagangnya, transaksinya dan banyak itu yang diurus. Supaya dia enggak jualan di medsosnya. Ini kita pantau lgi prosesnya. Tetap mereka harus patuh sama aturan," ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Isy Karim dikutip dari laman Kemendag.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement