Selasa 23 Jan 2024 15:58 WIB

NASA Luncurkan Misi Antariksa untuk Analisis Partikel Debu Antarbintang pada 2025

Dengan peluncuran itu diharapkan ilmuwan dapat mempelajari unsur penyusunan kosmik.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Friska Yolandha
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengumumkan rencana peluncuran peranti penyelidik Interstellar Mapping and Acceleration Probe (IMAP).
Foto: ne.spacegrant.org
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengumumkan rencana peluncuran peranti penyelidik Interstellar Mapping and Acceleration Probe (IMAP).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengumumkan rencana peluncuran peranti penyelidik Interstellar Mapping and Acceleration Probe (IMAP). Probe itu akan dilepas NASA ke antariksa pada Mei 2025.

Peranti penyelidik probe merupakan misi penjelajahan antariksa ilmiah tanpa awak yang meninggalkan Bumi dan menjelajahi ruang angkasa. Probe IMAP memiliki misi untuk menangkap partikel debu sangat kecil yang mengalir ke tata surya dari ruang antarbintang.

Baca Juga

Dengan peluncuran probe IMAP itu diharapkan, para ilmuwan dapat mempelajari unsur-unsur penyusun kosmik yang belum terungkap. Dari temuannya nanti, ilmuwan juga hendak mempelajari gelembung besar buatan matahari yang dikenal sebagai heliosfer.

Heliosfer mengelilingi tata surya, melindungi Bumi dan planet lain dari radiasi kosmik yang masuk dari luar tata surya. Probe IMAP akan membawa 10 instrumen sains untuk observasi in situ (langsung di lokasi observasi aslinya) dan jarak jauh.  

Salah satu instrumen itu disebut Interstellar Dust Experiment (IDEX) yang berukuran besar berbentuk drum. IDEX dirancang untuk menangkap dan menganalisis partikel debu kecil dari luar angkasa yang menembus heliosfer dan masuk ke tata surya.

"(Partikel debu) itu adalah paket kecil informasi dari masa lalu dan dari tempat yang sangat jauh sekali," kata Scott Tucker, manajer proyek IDEX di University of Colorado, Boulder, dikutip dari laman Space, Selasa (23/1/2024). 

Sebelumnya, para ilmuwan pernah menganggap partikel debu 'mengganggu' pengukuran jarak akurat ke bintang-bintang. Namun, belakangan diketahui bahwa partikel itu menyimpan informasi berharga tentang pembentukan galaksi, awan molekuler, dan planet.  

Bintik-bintik kosmik itu terbentuk di bintang-bintang dan terlempar ke luar angkasa melalui ledakan kematian bintang yang dikenal sebagai supernova. Tersimpan informasi berharga tentang proses pembentukan bintang dan proses lain saat partikel itu melakukan perjalanan melalui ruang antarbintang.

"Jadi, meskipun morfologinya berubah saat melintasi angkasa luar, partikel debu bintang masih merupakan bahan terdekat yang kita miliki untuk memahami bahan penyusun asli tata surya," ungkap peneliti utama IDEX dan profesor di  Laboratorium Fisika Atmosfer dan Luar Angkasa di UC Boulder, Mihály Horányi.

Menangkap partikel-partikel ini tidaklah mudah, karena ukurannya hanya sepersejuta inci dan bergerak dengan kecepatan sekitar 160 ribu kilometer per jam. Probe harus mengambil partikel yang sangat cepat dan besar serta partikel yang lebih kecil dan lebih lambat dan mengukurnya dengan instrumen yang sama.

Tujuan utama probe IMAP adalah di Lagrange Point 1, sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi. Sesampainya di sana, IDEX akan membuka bukaan selebar 51 sentimeter untuk menangkap debu yang melintas. Peneliti menyebutnya mirip paus bungkuk yang makan udang kril.

Ketika partikel-partikel debu menabrak IDEX, mereka akan menguap menjadi "awan ion" yang akan dianalisis oleh instrumen, termasuk susunan kimianya. Selama dua tahun masa operasionalnya nanti, probe IMAP diperkirakan mengumpulkan beberapa ratus partikel debu. Sebab, partikel debu itu tersebar sangat jarang di tata surya. 

Pekan lalu, instrumen sains IDEX beserta sebuah plakat yang diukir dengan nama 87 anggota tim perancangnya telah dikirim ke Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins di Maryland, AS. Selanjutnya, instrumen tersebut akan dipasang di probe IMAP. 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement