Sabtu 30 Dec 2023 13:10 WIB

Flu Burung Sudah Menyebar ke Antartika, Apa Artinya Bagi Alam?

Flu burung terdeteksi pada beberapa spesies burung laut di Antartika.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Flu burung telah merambah ke benua Antartika yang sering disebut 'tidak tersentuh'.
Foto: Jason Auch/Wikimedia
Flu burung telah merambah ke benua Antartika yang sering disebut 'tidak tersentuh'.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Antartika sering dibayangkan sebagai hutan belantara yang belum tersentuh. Sayangnya, flu burung telah merambah ke benua es tersebut. Virus ini telah mencapai pulau-pulau sub-Antartika di antara Semenanjung Antartika dan Amerika Selatan, tinggal menunggu waktu untuk mencapai benua Antartika.

Hanna EF Nielsen, dosen senior di University of Tasmania, mengatakan bahwa flu burung telah terdeteksi pada beberapa spesies burung laut di Pulau Georgia Selatan dan Kepulauan Falkland (Malvinas). Burung-burung ini diketahui melakukan perjalanan ke Antartika. Para peneliti juga menduga flu burung menyebabkan kematian massal pada anjing laut gajah selatan.

Baca Juga

“Kedatangan flu burung di Antartika berpotensi menimbulkan bencana bagi satwa liar, memusnahkan populasi dalam jumlah besar. Wabah flu burung di Antartika juga dapat mengganggu kegiatan pariwisata dan penelitian selama musim panas yang sibuk,” kata Nielsen seperti dilansir Phys, Sabtu (29/12/2023).

Menurut dia, saat ini Antartika berada di tengah-tengah "panzootic", yakni pandemi flu burung berskala besar yang terjadi di seluruh dunia dan telah mempengaruhi lebih dari 200 spesies burung liar.

Meskipun jenis flu burung ini (H5N1) merupakan musuh lama, genetika dan epidemiologi virus ini telah berubah. Setelah sebagian besar ditemukan pada unggas, kini virus ini menginfeksi sejumlah besar burung liar. Burung-burung yang bermigrasi telah menyebarkan virus ini dengan wabah besar yang kini terjadi di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Meagan Dewar, Dosen di Fakultas Sains, Psikologi dan Olahraga, Federation University Australia, menyatakan bahwa flu burung telah menghancurkan populasi burung laut di seluruh dunia, termasuk berkurangnya 70 persen burung gannet di Bass Rock, Inggris. Banyak burung yang sakit, dengan tanda-tanda termasuk kehilangan koordinasi, mata berair, kepala berputar, kesulitan bernapas atau lesu.

“Selain burung, virus ini mungkin telah membunuh lebih dari 30 ribu singa laut Amerika Selatan dan lebih dari 2.500 anak anjing laut gajah selatan di Amerika Selatan. Di Georgia Selatan, kematian massal telah terjadi pada anak-anak anjing laut gajah, namun virus ini tidak terdeteksi pada sampel yang dikirim untuk tes laboratorium,” jelas Dewar.

Kasus flu burung pertama terdeteksi di dekat Antartika terjadi pada awal Oktober di Bird Island, Georgia Selatan, pada burung camar-kejar coklat (burung laut yang mirip dengan camar besar). Sebuah kasus di Kepulauan Falkland (Malvinas) dikonfirmasi beberapa pekan kemudian pada spesies burung laut lainnya, yaitu burung fulmar selatan.

Analisis genetik mengungkapkan bahwa virus memasuki wilayah ini pada dua kesempatan terpisah. Burung camar-kejar coklat dan camar rumput laut disorot sebagai spesies yang paling mungkin menyebarkan virus ke benua Antartika dalam penilaian risiko baru-baru ini, karena mereka melakukan perjalanan ke wilayah tersebut dari Amerika Selatan. Mereka juga sangat rentan terhadap flu burung, dengan spesies terkait di Belahan Bumi Utara yang mengalami kerugian lebih dari 60 persen.

 

Apa artinya fenomena ini bagi Antartika?

Semenanjung Antartika, dengan area bebas esnya, merupakan tempat berkembang biak yang penting bagi banyak spesies kunci Antartika. Spesies-spesies tersebut -dan spesies lainnya, termasuk penguin Kaisar yang ikonik- hidup dalam koloni yang padat dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia, sehingga sangat rentan terhadap wabah penyakit.

Wabah di Semenanjung Antartika juga akan sangat mengganggu industri pariwisata. Lebih dari 104 ribu orang berkunjung sebagai turis pada musim 2022-23. Orang-orang berkunjung untuk melihat satwa liar, melakukan pendaratan di benua, dan menikmati pemandangan.

Setelah flu burung dikonfirmasi di lokasi tertentu, lokasi tersebut akan ditutup untuk wisatawan. Hal ini akan memberikan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung, dimana perjumpaan dengan satwa liar di darat akan beralih ke aktivitas berbasis kapal pesiar.

Antarctic Wildlife Health Network dari Komite Ilmiah untuk Penelitian Antartika telah menyusun rekomendasi untuk komunitas penelitian dan pariwisata. Rekomendasi ini mencakup informasi seputar biosekuriti, pengujian, dan pelaporan kasus. Basis data jaringan ini mengumpulkan informasi mengenai kasus-kasus yang dicurigai dan yang telah dikonfirmasi sebagai kasus flu burung jenis H5N1 di wilayah Antartika.

Di sisi lain, banyak ancaman terhadap Antartika termasuk perubahan iklim, polusi, dan patogen-berasal dari tempat lain. Perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan penyebaran penyakit menular pada satwa liar dan Antartika tidak kebal.

"Pengawasan penyakit dan kolaborasi antara semua pihak di ujung selatan sangat penting untuk membantu meminimalkan dampak flu burung dan ancaman penyakit di masa depan. Kasus flu burung menyoroti konektivitas dunia kita, dan mengapa kita perlu merawat planet ini untuk melindungi ujung Selatan,” kata Nielsen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement