Sabtu 25 Nov 2023 12:45 WIB

Undang Pandawara Grup, Begini Cara Denmark Sulap Sampah Jadi Energi

Denmark termasuk satu negara di dunia yang paling banyak lakukan daur ulang sampah.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Natalia Endah Hapsari
Pandawara Group diundang pemerintah Denmark untuk mempelajari sistem daur ulang sampah di negeri itu.
Foto: IG Pandawaran Group
Pandawara Group diundang pemerintah Denmark untuk mempelajari sistem daur ulang sampah di negeri itu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Denmark merupakan salah satu dari 10 negara di dunia yang paling banyak melakukan daur ulang sampah menurut OECD Statistics dan Eurostat. Pencapaian ini tentu tak mengherankan, mengingat Denmark dikenal sebagai negara dengan sistem daur ulang sampah yang mapan dengan persentase daur ulang sampah mencapai 53,9 persen pada 2020 menurut Eurostat.

"Banyak produk (di Denmark) yang dirancang untuk bisa diolah sendiri menjadi kompos di rumah," jelas perusahaan ramah lingkungan, Agood, melalui laman resmi mereka, seperti dikutip Sabtu (25/11/2023).

Baca Juga

Tampaknya semangat itulah yang membuat akhirnya Denmark mengundang Pandawara Group, kelompok anak muda yang kerap mengajak masyarakat membersihkan pantai hingga sungai dari sampah, datang ke negeri itu untuk meninjau proses daur ulang sampah.

Ternyata, untuk urusan daur ulang sampah, Denmark memang terdepan. Pada 2019, Denmark juga mencetak rekor ekonomi sirkular baru. Kala itu, ada lebih dari 61 juta botol dan kaleng yang dikembalikan oleh masyarakat untuk didaur ulang. Artinya, sekitar 92 persen dari seluruh botol dan kaleng di Denmark telah didaur ulang.

Pencapaian yang luar biasa ini tidak terlepas dari adanya sistem pengembalian dan deposit untuk botol kemasan dan kaleng. Sistem ini dikenal dengan nama "pant" yang berarti "deposit" dalam bahasa Denmark.

Setiap kali warga Denmark membeli minuman dalam wadah botol atau kaleng bertanda deposit, mereka harus membayar deposit. Deposit ini bisa mereka dapatkan kembali setelah mereka mengembalikan botol atau kaleng yang sudah kosong ke sebuah vending machine pengembalian sampah yang tersedia di berbagai supermarket lokal. Deposit tersebut nantinya bisa digunakan sebagai potongan harga saat berbelanja di supermarket, seperti diungkapkan oleh Aarhus University melalui laman resminya.

Selain itu, warga Denmark juga memiliki kedisiplinan dalam memilah sampah di rumah. Warga Denmark biasanya akan membagi sampah rumah tangga menjadi 10 kategori berbeda, berdasarkan materialnya. Sebagian dari kategori tersebut adalah sampah makanan, kemasan plastik, kertas, kardus dan kaca, tekstil atau kain rusak, serta karton makanan dan minuman.

Untuk memudahkan warga dalam memilah sampah, tempat pembuangan untuk tiap kategori sudah disediakan di sekitar rumah warga. Selain itu, truk sampah yang mengangkut sampah-sampah tersebut juga telah dirancang secara khusus sehingga sampah yang sudah dipisahkan oleh warga tidak tercampur kembali.

"(Manajemen dan daur ulang sampah) ini merupakan pekerjaan yang dimulai dari rumah, dimulai dari yang kecil," jelas Abhilasha Dixit Mishra selaku project manager dari perusahaan pengelola dan daur ulang sampah di Denmark, Hillerod Utilities, seperti dilansir Citizen Digital.

Setelah terkumpul, sebagian sampah akan didaur ulang dan sebagian lainnya akan diolah dengan mesin incinerator menjadi sumber daya. Di perusahaannya, Mishra mengungkapkan bahwa sebagian sampah mereka olah menjadi sumber listrik untuk menyalakan mesin pemanas di rumah warga Denmark dan pemanas air selama musim dingin.

Menurut Mishra, kesadaran warga Denmark dalam pengelolaan sampah sudah ditanamkan sejak dini. Saat kecil mereka diajarkan mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang benar. Mereka juga kerap mengirimkan pamflet dan panduan pemilahan sampah secara rutin kepada warga sebagai pengingat.

"Bagi kami, sampah adalah sumber daya. Mengingat adanya krisis energi, kita memerlukan sampah sebagai sumber energi. Sesaat setelah sampah dipilah dan dikirim ke incinerator, dia akan digunakan untuk menghangatkan rumah-rumah warga selama musim dingin," kata Mishra.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement