Selasa 24 Oct 2023 15:31 WIB

Google Maps Hentikan Data Lalu Lintas di Israel, Alasannya Mengejutkan!

Google menghapus data lalu lintas atas permintaan Israel.

Rep: Santi Sopia/ Red: Natalia Endah Hapsari
Google Maps menghentikan data lalu lintas Israel menjelang rencana invasi darat pasukan tersebut ke Gaza./ilustrasi
Foto: YouTube
Google Maps menghentikan data lalu lintas Israel menjelang rencana invasi darat pasukan tersebut ke Gaza./ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Google Alphabet Inc. menonaktifkan live traffic atau data lalu lintas di Israel dan Jalur Gaza untuk aplikasi Maps dan Waze. Hal ini diketahui berdasarkan permintaan militer Israel menjelang potensi invasi darat ke Gaza.

“Seperti yang telah kami lakukan sebelumnya dalam situasi konflik dan sebagai respons terhadap situasi yang berkembang di wilayah tersebut, kami untuk sementara waktu menonaktifkan kemampuan untuk melihat kondisi live traffic dan informasi kesibukan karena mempertimbangkan keselamatan komunitas lokal,” kata juru bicara Google dalam sebuah pernyataan, dikutip dari laman Stripes, Selasa (14/10/2023).

Baca Juga

Google menghapus data kerumunan orang secara real-time di Israel dan Gaza atas permintaan Pasukan Pertahanan Israel. Hal itu diungkapkan oleh sumber yang mengetahui masalah tersebut dan enggan disebutkan namanya.

Perusahaan ini mengambil tindakan serupa di Ukraina tahun lalu setelah invasi Rusia ke negara tersebut, dengan menonaktifkan data lalu lintas kendaraan serta pejalan kaki secara real-time.

Menurut Google, kendati Maps dan Waze tidak menampilkan lalu lintas secara real-time, pengemudi yang menggunakan sistem navigasi akan terus menerima perkiraan waktu kedatangan berdasarkan kondisi langsung, menurut Google.

Situs teknologi Israel GeekTime, yang pertama kali melaporkan perkembangan tersebut, mengatakan aplikasi Maps milik Apple Inc. juga memenuhi permintaan tentara Israel. Perwakilan Apple dan pasukan pertahanan Israel tidak menanggapi permintaan komentar. 

Israel memanggil lebih dari 300 ribu tentara cadangan setelah serangan kelompok militan Hamas yang menewaskan lebih dari 1.400 orang di Israel selatan dan menyebabkan lebih dari 200 orang disandera.

Militer negara tersebut telah mengisyaratkan akan melakukan invasi darat ke Gaza, yang mendapat kritik dari para pemimpin dunia karena risiko jatuhnya korban sipil. Presiden AS Joe Biden mengatakan dia telah mengajukan “alternatif” selain perang darat dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement