Jumat 20 Oct 2023 14:02 WIB

Optimalisasi AI Bagi HR : Jadi Kawan atau Lawan ?

AI akan membantu pekerja meningkatkan produktivitas dan menghemat waktu berharga

Jobseeker Company sebagai penggagas acara Hiring Talks With Helmy Yahya Bicara menggelar talkshow podcast bertajuk Optimalisasi AI Pada HR: Jadi Kawan atau Lawan?.
Foto: Dok Jobseeker Company
Jobseeker Company sebagai penggagas acara Hiring Talks With Helmy Yahya Bicara menggelar talkshow podcast bertajuk Optimalisasi AI Pada HR: Jadi Kawan atau Lawan?.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- AI, Teknologi masa depan yang telah menjadi perbincangan hangat dimana-mana saat ini. Sebuah teknologi baru yang langsung masuk dalam kehidupan kita.

Bagi banyak perusahaan, pastinya anggapan AI (kecerdasan buatan) dapat menjadi ancaman atau malah menjadi kawan. Akankah AI meningkatkan kemampuan kita atau menggantikan kita sepenuhnya? 

Terkait hal tersebut, Jobseeker Company sebagai penggagas acara ’Hiring Talks With Helmy Yahya Bicara’ menggelar talkshow podcast bertajuk Optimalisasi AI Pada HR: Jadi Kawan atau Lawan?. Sebuah topik menarik, dan sangat berpengaruh terhadap masa depan HR secara global.

Chandra Ming, CEO dan Founder Jobseeker Company, menjelaskan bahwa teknologi akan selalu membantu kita. Perbedaan pekerjaan HR di masa lalu yang masih manual kini bertransformasi ke arah digital. 

Kompetensi harus ditingkatkan agar mutu pekerjaan semakin tinggi. Salah satunya bagaimana AI akan membantu pekerja meningkatkan produktivitas dan menghemat waktu berharga.  Inilah mengapa Jobseeker Company bersama ‘Helmy Yahya Bicara’ berkolaborasi membuat acara ini.

Sementara  Audi Lumbantoruan, selalu HR Advisor ASEAN Center for Biodiversity yang hadir dalam talkshow ini menjelaskan bahwa AI akan bekerja seperti asisten virtual yang akan mengumpulkan informasi yang diperlukan. Membuat dan mengirimkan formulir digital, dan memandu karyawan baru melalui hak dan manfaat mereka serta proses orientasi.

"Jika Anda seorang profesional SDM yang tertarik untuk mengeksplorasi penggunaan AI di perusahaan Anda, Anda tidak perlu memahami setiap detail tentang perangkat lunak, program, dan aplikasi yang merupakan bagian dari AI," ucap dia. Sebaliknya, akan lebih bermanfaat jika mendekati AI dari perspektif bisnis.

Para pembicara menjelaskan bagaimana teknologi ini akan menjadi pendamping, dan bermanfaat secara efektif dalam pekerjaan HR. 

“Kita selaku praktisi HR harus dapat melakukan identifikasi masalah secara spesifik, melakukan pemetaan semua area sehingga mengetahui apa saja yang harus diperbaiki. Pendekatan ini memberikan dasar yang kuat untuk dibangun dan dapat diterapkan pada beberapa area utama di mana AI kemungkinan besar akan memainkan peran penting, termasuk didalamnya bagian rekrutmen dan seleksi. Kinerja dan pengembangan karyawan, analisis SDM dan pengambilan keputusan.

Ini membuktikan pemanfaatan AI terhadap area kerja HR yang sangat luas,” demikian yang disampaikan oleh Dr. Yunus Triyonggo, selaku HRGA Director PT Bridgestone Tire Indonesia, dan Chairman of Steering Committee GNIK.

Manfaat AI

Sementara itu CEO dari Nusameta, WIR Group, Stephen Ng menjelaskan kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi untuk merevolusi bidang HR. Dengan AI, profesional HR dapat lebih fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan kreativitas dan empati. 

Sementara AI dapat membantu mereka dengan tugas-tugas yang lebih rutin dan administratif. AI juga dapat digunakan untuk otomatisasi tugas-tugas administratif, seperti proses rekrutmen dan onboarding. 

Manfaat lain AI yaitu dapat digunakan untuk menganalisis data karyawan dengan lebih akurat daripada manusia. Hal ini dapat membantu profesional HR membuat keputusan yang lebih tepat dalam hal rekrutmen, pelatihan, dan pengembangan karyawan. Pengembangan AI untuk HR masih terus berlangsung. Namun, sudah banyak perusahaan yang mulai menerapkan AI dalam bidang ini. 

Dengan penerapan dan pengembangan AI yang tepat, HR dapat menjadi lebih efektif dan efisien, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi karyawan dan perusahaan.

Beberapa hal penting yang harus diketahui oleh para praktisi HR melalui pemanfaatan teknologi AI dalam

diskusi ini, antara lain HR harus jeli saat melakukan proses rekrutmen. Beberapa kandidat berkualitas bisa sajatersingkir karena perbedaan algoritma yang telah ditentukan.

Aspek penilaian budaya dan soft skill terabaikan. Berakibat hilangnya potensi keragaman dan inovasi dalam angkatan kerja.

Hubungan dalam sebuah proses perjalanan pelatihan antar karyawan sangatlah penting. Sistem AI tidak dapat membangun hubungan, memberikan dukungan, dan berinteraksi antar manusia.

Mengandalkan algoritma AI untuk pengambilan keputusan dapat melemahkan unsur intuisi dan penilaian manusia.

Chandra Ming menjelaskan bahwa AI dalam pekerjaan SDM merupakan topik yang memiliki banyak aspek. Perannya memiliki potensi merevolusi praktik SDM dengan mengotomatisasi berbagai macam tugas, serba berbasis data, dan meningkatkan pengambilan keputusan. Akan tetapi menurutnya jangan sampai AI menghilangkan sentuhan manusia. Organisasi harus menemukan keseimbangan yang tepat antara otomatisasi dan keterlibatan manusia.

Memastikan AI digunakan sebagai alat pendukung dan bukan sebagai pengganti profesional SDM. Pentingnya Kepemimpinan SDM yang Berpikir Maju di Era AI dan Otomatisasi.

“Meskipun AI dan otomatisasi akan berdampak signifikan pada masa depan pekerjaan, keterampilan manusia dan kecerdasan emosional tetap penting. Pemimpin SDM yang berpikiran maju memahami pentingnya menyeimbangkan teknologi dengan interaksi manusia untuk menciptakan lingkungan kerja yang holistik,” ujar Helmy Yahya selaku Moderator memberikan salah satu kunci penting dalam diskusi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement